GreatNusa
GreatSayaGreatBisnisGreatEdu
Design & CreativeBusiness & ManagementData & TechnologyDigital MarketingFinance & AccountingLeadershipLanguageSales & MarketingProject ManagementSoft SkillLihat Semua Kategori
Masuk / Daftar
  1. Beranda
  2. Artikel

Artikel

GreatNusa

PT. Gagas Edukasi Anantara
Jl. Jalur Sutera Barat Panunggangan Timur
Kota Tangerang 15143
Indonesia

Hubungi Kami

kontak@greatnusa.com

Kategori Populer

  • Design & Creative

  • Business & Management

  • Data & Technology

  • Digital Marketing

  • Finance & Accounting

  • Leadership

Lainnya

  • Produk

  • Artikel

  • Kategori Produk

  • Kategori Artikel

  • Kebijakan Privasi

  • Syarat dan Ketentuan

  • Tanya Jawab

Event

  • Microsoft Elevate 2026 bersama GreatNusa

© 2026 GreatNusa. Seluruh hak cipta dilindungi.
Made with ❤️ for Indonesia

    Menampilkan 19 - 24 dari 441 Artikel

    Apa Saja Perbedaan Pemimpin dan Manajer?

    ARTICLE

    WORK CULTURE

    By greatnusa • 28 Februari 2023

    Apa Saja Perbedaan Pemimpin dan Manajer?

    Perbedaan pemimpin dan manajer perlu diketahui karena itu dua hal yang berbeda walau terkesan sama. Apa saja perbedaannya? Simak penjelasannya di artikel ini.

    Tahukah kamu bahwa masih banyak yang belum memahami mengenai perbedaan pemimpin dan manajer? Sekilas, keduanya memang memiliki makna sama. Namun, istilah keduanya memiliki sejumlah perbedaan. Sebagaimana diketahui, di dalam perusahaan maupun organisasi terdapat seorang leader (pemimpin) dan manajer. 

    Pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan memengaruhi, memotivasi, mengarahkan, dan mengawasi orang lain agar tugas yang sudah direncanakan terselesaikan dengan baik. Sementara berdasarkan definisinya, seorang manajer harus bisa mengatur, mengarahkan, dan mengendalikan orang lain agar tujuan yang telah ditetapkan perusahaan atau organisasi tercapai. Meskipun, seorang manajer belum tentu seorang pemimpin, keduanya penting bagi keberlangsungan perusahaan. 

    Apa Itu Pemimpin?

    Pemimpin bukanlah sebuah jabatan atau posisi di dalam sebuah perusahaan. Kamu dapat melihat struktur organisasi perusahaan dan tidak akan menemukan kata pemimpin di dalamnya.

    Pemimpin adalah sebuah karakter atau peran. Dengan kata lain, siapapun dapat menjadi pemimpin atau memiliki sifat kepemimpinan.

    Tentu saja pemimpin yang hebat umumnya memiliki posisi atau jabatan yang mentereng di perusahaan. Pemimpin kemudian umumnya memiliki pengaruh yang besar di dalam perusahaan.

    Apa Itu Manajer?

    Berbeda dengan pemimpin, manajer adalah sebuah jabatan atau posisi. Manajer umumnya memiliki peran untuk mengatur sistem organisasi perusahaan.

    Manajer dapat dianggap sebagai gerbang ke tingkat yang lebih tinggi oleh para bawahannya. Para karyawan umumnya akan lebih sering berbicara pada dan bertemu dengan manajer ketimbang pemimpin yang memiliki jabatan lebih di atas.

    Apa Saja Perbedaan Antara Pemimpin dan Manajer?

    Setelah mengetahui pengertian pemimpin dan manajer, kamu mungkin telah memiliki sedikit gambaran tentang perbedaan di antara keduanya. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan mengenai perbedaan antara pemimpin dan manajer berikut ini.

    1. Posisi 

    Pemimpin dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mampu memimpin, baik secara formal (resmi) maupun informal (tidak resmi). Untuk mendapatkan posisi pemimpin, kamu harus memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Pemilihannya sendiri tidaklah serumit manajer. Pasalnya, posisi pemimpin umumnya bersifat sementara. Pemimpin memiliki masa kontrak yang bervariasi tergantung tugas. Misalnya, jika kamu ditugaskan untuk mengurus sebuah proyek pembangunan gedung yang membutuhkan waktu selama enam bulan, maka selama itulah kamu menjabat sebagai pemimpin. 

    Baca Juga: 3 Tingkatan Piramida Manajemen Dan Contohnya

    Berbeda dengan pemilihan pemimpin yang biasanya berdasarkan kontrak kerja mengenai proyek atau tugas tertentu, pemilihan manajer dilakukan secara formal berdasarkan yuridis perusahaan tersebut yang ditandai dengan adanya surat pengangkatan atau keputusan dari komisaris atau direktur. Umumnya, waktu kerja yang diperlukan seseorang untuk menjabat sebagai manajer berkisar tiga hingga lima tahun. Makin banyak prestasi yang kamu raih, makin besar peluang untuk menduduki posisi tinggi dalam waktu relatif singkat. 

    2. Fungsi 

    Pemimpin memiliki fungsi dasar untuk membentuk visi, tim, membagi tugas, mengarahkan, memotivasi dalam bekerja, dan menggerakkan bawahannya mencapai tujuan. Dalam menjalankan fungsinya, pemimpin lebih menekankan pengaruh yang dimilikinya untuk membuat bawahan mengikuti arahannya, bukan dengan paksaan atau iming-iming hadiah. Pemimpin akan melakukan stimulasi, memberikan fasilitas, dan berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan yang wajib diikuti oleh bawahannya. 

    Sementara fungsi dasar manajer berkaitan erat dengan perencanaan (planning), pengarahan (directing), pengorganisasian (organising), kontrol (controlling), dan penempatan staff (staffing). Biasanya, seorang manajer dalam menjalankan fungsinya sering memanfaatkan kekuasaan jabatan dan wewenang secara struktural yang mempunyai kekuatan mengikat. Artinya, seorang manajer dapat memaksa atau menghukum bawahannya.  

    3. Tugas dan Peran 

    Salah satu perbedaan pemimpin dan manajer yang utama terdapat pada tugas dan peran.

    Pemimpin membangun visi sementara manajer mewujudkan ide tersebut dengan membuat rencana. Pemimpin perusahaan yang hebat adalah pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan. Ia dapat melihat hal-hal yang umumnya tidak dapat dilihat oleh kebanyakan orang.

    Sementara itu, manajer yang hebat adalah manajer yang dapat membuat rencana yang runut untuk mewujudkan visi dari pemimpin. Jika pemimpin bertugas untuk membangun visi, maka manajer membangun tujuan untuk mewujudkannya.

    Seorang pemimpin tidak hanya harus berwibawa, tetapi juga mampu menguatkan visi yang diemban. Lantaran memahami bahwa membangun personal branding sangatlah penting, pemimpin cenderung melakukan banyak hal unik, berpikiran out  of the box, dan mendorong bawahannya untuk terus berkembang. Pemimpin juga tidak takut untuk berinovasi dan mengambil risiko. 

    Selain bertanggung jawab, seorang manajer harus mempunyai pengetahuan luas, terampil, dan mampu berkomunikasi. Tugasnya adalah mengatur dan mengintegrasi berbagai jenis variabel ke dalam tujuan perusahaan. Seorang manajer harus bisa memimpin bawahannya serta merencanakan, mengelola, mengawasi, dan mengevaluasi kegiatan manajemen. 

    Manajer memiliki peran dalam menentukan langkah yang harus diambil demi mencapai tujuan perusahaan. Seorang manajer juga harus bisa memprediksi hasil dari pilihan tersebut. Selain bertanggung jawab dalam pengelolaan dan koordinasi tim, manajer juga harus memastikan bahwa kebijakan perusahaan berjalan sebagaimana mestinya.

    Berbeda dengan pemimpin yang berani berinovasi, seorang manajer cenderung menjalankan tugas secara formal sehingga selalu berpegang teguh pada hal-hal yang sudah terbukti keberhasilannya. Seorang manajer lebih banyak meniru kompetensi dan mencontoh perilaku serta gaya kepemimpinan orang lain. Alih-alih mengambil risiko layaknya seorang pemimpin, seorang manajer justru meminimalisasi risiko tersebut dengan cara menjalankan yang telah ada. Singkatnya, seorang manajer akan berusaha mengendalikan situasi dan cenderung menghindari masalah. 

    4. Kepemimpinan 

    Ditilik dari lingkungan kerja, seorang pemimpin bisa memimpin di lingkungan kerja formal ataupun informal. Pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap bawahannya dan seluruh anggota tim yang turut berkontribusi. Ketika terdapat satu unit kerja melakukan kesalahan, unit lain harus menanggung beban karena kesalahan tersebut. Seorang pemimpin biasanya berpikir dengan lebih holistik dan memiliki gambaran mengenai target pencapaiannya. Hal inilah yang membuat pemimpin tahu bagaimana cara mendorong dan menginspirasi bawahannya untuk mengubah visi menjadi realita. 

    Baca Juga: Mengenal Strategi Kepemimpinan Dalam Dunia Kerja

    Dibandingkan orang biasa, cara berpikir pemimpin sangat luas dan jauh. Tak jarang pemimpin memiliki pemikiran yang dianggap nyeleneh, tetapi sangat mendukung terwujudnya visi atau tugas yang diemban. Pemimpin yang baik sangat mengetahui potensi bawahannya. Oleh karena itu, pemimpin sering memotivasi bawahannya untuk terus berkembang dan memaksimalkan kemampuannya. Alhasil, seluruh bawahan yang tergabung dalam tim mampu memberikan hasil terbaik dan bekerja sama mencapai tujuan.  

    Berbeda dengan pemimpin, seorang manajer hanya bisa memimpin di lingkungan kerja formal saja. Manajer memiliki tanggung jawab pada atasannya. Lantaran bertugas memastikan tujuan dapat tercapai, seorang manajer lebih fokus terhadap cara mengatur dan menyelesaikan hal-hal yang dinilai dapat menjadi penghalang atau menimbulkan masalah di kemudian hari. Supaya berjalan lancar, manajer memiliki seorang asisten untuk membantunya mengerjakan tugas operasional. 

    Lain dengan gaya kepemimpinan pemimpin yang bersifat transformasional (memberi motivasi dan memberdayakan), gaya kepemimpinan manajer bersifat transaksional (member hadiah dan hukuman). Mengingat manajer selalu bertindak konvensional, cara kepemimpinannya cenderung kaku. Manajer hanya menugaskan dan memberikan panduan atau arahan pada bawahannya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Bawahan yang memiliki kinerja baik akan diberikan hadiah, sedangkan yang berkinerja buruk akan mendapatkan hukuman. 

    5. Perlakuan Pada Bawahan 

    Seorang pemimpin mempunyai bawahan yang kerap disebut pengikut. Pengikut pemimpin adalah orang-orang yang percaya terhadap kemampuan, kecakapan, dan perilaku pemimpinnya yang baik. Pengikut akan menjalankan tugas dan perintah atas dasar rasa kagum dan hormat. Seorang pemimpin hampir tidak berjarak dengan bawahannya. Pemimpin juga memiliki kepedulian tinggi terhadap bawahannya dan memperlakukannya sebagai makhluk yang utuh. 

    Hal itulah yang membuat seorang pemimpin tidak hanya mengejar target, melainkan juga memedulikan keseimbangan kehidupan kerja bawahannya. Lantaran sangat mengenali potensi dan kemampuan para pengikutnya. Pemimpin tidak segan untuk melakukan tindakan persuasif supaya bawahan mengikuti instruksinya sehingga visi dan target tercapai.

    Baca Juga: 8 Langkah Strategi Komunikasi Persuasif dalam Dunia Kerja

    Berbeda dengan pemimpin yang memiliki pengikut secara sukarela, manajer mempunyai bawahan yang disebut sebagai karyawan atau staf. Bawahan tersebut harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan manajer. Mengingat manajer memiliki kuasa untuk memberikan tugas, hadiah, dan hukuman, para bawahannya biasanya patuh dan menjalankan tugas yang diberikan sebaik mungkin.

    6. Sikap Terhadap Resiko

    Perebedaan besar lainnya antara pemimpin dan manajer adalah sikap keduanya terhadap resiko. Pemimpin adalah orang yang berani mengambil risiko. Ia percaya bahwa visi yang dimilikinya akan membayar segala perjuangannya di masa sekarang. Pemimpin adalah orang yang berpikir soal jangka panjang.

    Sementara itu, manajer cenderung menghindari risiko. Manajer adalah orang yang bertugas untuk memberikan hasil secepat mungkin. Manajer fokus mencapai target jangka pendek untuk menunjukkan hasil yang positif bagi perusahaan.

    Kesimpulan

    Baik manajer maupun pemimpin memainkan tanggung jawab yang berbeda. Masing-masing dari mereka bergerak tidak hanya dengan tim tetapi juga dengan kerangka kerja organisasi yang teratur dan memiliki bawahan. Membangun kolaborasi, meningkatkan komunikasi, mengambil resiko dengan tujuan visi perusahaan sangat penting untuk alasan ini.

    Memang menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah berhasil, namun begitulah hakikatnya. Setiap dari Anda yang pernah memiliki posisi kepemimpinan akan dapat memahami hal ini. Tidak ada keraguan bahwa setiap perusahaan yang sukses memiliki manajemen dan kepemimpinan terbaik.

    Setiap pemimpin harus mengembangkan kemampuannya sendiri di samping perannya sebagai karyawan. Karena sebenarnya tidak ada formula untuk kepemimpinan yang efektif. Karena setiap karyawan memiliki kepribadiannya masing-masing, pemimpin dan manajer harus menugaskan individu berdasarkan kemampuannya.

    Perusahaan bisa menawarkan seluruh fasilitas sebagai pendongkrak kinerja pekerja. Menggunakan perangkat lunak SDM yang berfokus pada produktivitas karyawan atau alat absensi online, misalnya. Karyawan tidak hanya bekerja lebih efisien, tetapi bisnis juga mendapatkan keuntungan secara konsisten.

    Baca Juga: Apa Yang Dimaksud Dengan Strategi Bisnis? Seperti Apa Hal Ini Bisa Membantu Bisnis Anda?

    Demikianlah informasi mengenai perbedaan pemimpin dan manajer yang perlu kamu ketahui. Terlepas dari perbedaan tersebut, keduanya memiliki peran besar dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Secara simpel, pemimpin adalah orang yang membangun visi dan berpikir jangka panjang, sementara manajer adalah orang yang menentukan tujuan serta berpikir jangka pendek.

    Untuk menjadi seorang pemimpin, kamu tidak harus menjabat sebagai manajer lebih dulu. Kamu bisa mempelajari kepemimpinan melalui portal pembelajaran daring GreatNusa. 

    GreatNusa menyediakan berbagai jenis course dan webinar dengan materi berkualitas dan praktis. Berbekal materi tersebut, kamu bisa mengoptimalkan kemampuan leadership dan manajerial. Tunggu apa lagi? Ayo, gapai masa depan yang lebih baik bersama GreatNusa!

    Biar Karier Lancar Jaya, Yuk Pahami Perbedaan Soft Skill dan Hard Skill

    ARTICLE

    CAREER HACK

    By greatnusa • 14 Maret 2022

    Biar Karier Lancar Jaya, Yuk Pahami Perbedaan Soft Skill dan Hard Skill

    Pahami perbedaan soft skill dan hard skill serta cara mengasahnya, seperti dengan mencari mentor hingga bekerja sama. Simak infonya di artikel ini.

    Ketika akan mencari karyawan baru, kebanyakan perusahaan akan mencari kandidat yang mengetahui hal-hal yang bersifat teknis terkait tugas mereka. Hal-hal teknis yang bersifat pengetahuan inilah yang kita kenal sebagai hard skill. Ini memang benar adanya. Namun, tahukah kamu bahwa soft skill juga menjadi penilaian penting? Lalu, sebenarnya apa perbedaan soft skill dan hard skill?

    Untuk lebih memahami perbedaan soft skill dan hard skill, hal pertama yang harus kamu ketahui adalah pengertian, konsep dan contoh keduanya. Selengkapnya, simak pembahasan berikut ini!

    Apa Pengertian Hard Skill dan Soft Skill Beserta Contohnya?

    1. Pengertian Hard Skill dan Contohnya

    Hard skill atau yang dikenal dengan keterampilan teknis bersifat spesifik untuk pekerjaan dan relevan dengan setiap posisi dan tingkat senioritas. Dalam bahasa yang lebih teknis, hard skill adalah kemampuan yang bisa dipelajari, dievaluasi, dan diukur. Dengan begitu, setiap posisi pada sebuah perusahaan akan memiliki kemampuan spesifik masing-masing.

    Para pencari kerja dapat mengetahui hard skill apa saja yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan dengan melihat bagian dari requirement atau syarat dari sebuah lowongan kerja pada umumnya. Misalnya saja seorang akuntan perlu tahu bagaimana merekonsiliasi laporan bank sementara pengembang itu memerlukan kemampuan ini.

    Pada saat yang sama, rekonsiliasi penting bagi seorang akuntan terlepas dari tingkat pengalaman mereka. Namun, kemampuan dalam menyiapkan anggaran bisnis adalah contoh hard skill yang tidak dibutuhkan oleh seorang akuntan junior.

    Apa saja contoh hard skill? Kemampuan bahasa, gelar akademis, sertifikat, kemampuan digital marketing dan UX design adalah beberapa di antaranya.

    2. Pengertian Soft Skill dan Contohnya

    Berbeda jauh dengan hard skill yang dapat diukur dengan cukup pasti, soft skill merupakan keterampilan dan kemampuan yang sulit diukur dan sedikit kabur untuk didefinisikan. Ini merupakan keterampilan intrapersonal yang membantu seseorang untuk bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

    Soft skill adalah karakteristik umum yang relevan dengan kepribadian. Ada beberapa soft skill yang dibutuhkan untuk semua posisi pekerjaan. Namun, ada juga soft skill tertentu yang hanya penting di satu tugas saja namun tidak begitu dibutuhkan di pekerjaan lain.

    Seandainya kamu ingin bekerja dengan perusahaan yang menuntut kerja sama tim yang baik, kamu memerlukan komunikasi dan kemampuan yang mumpuni dalam membangun jaringan.

    Tapi untuk peran teknik yang dilakukan sendiri, hal ini mungkin tidak akan begitu dibutuhkan. Demikian juga kemampuan kepemimpinan serta berpikir kritis yang dibutuhkan bagi orang-orang yang akan mengelola tim, tidak peduli departemen apapun yang mereka pimpin.

    Ada banyak sekali contoh soft skill yang mungkin kamu butuhkan di dunia kerja. Beberapa di antaranya adalah leadership (kepemimpinan), kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, adaptabilitas dan fleksibilitas, mengambil keputusan, kreativitas, kemampuan dalam persuasi (memengaruhi orang lain), kerja tim, dan kecerdasan emosional.

    Di antara semua contoh soft skill di atas, kecerdasan emosional adalah yang paling sulit diajarkan. Kemampuan ini berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berempati dengan orang lain, meregulasi kebiasaan dan mengembangkan kesadaran diri (self-awareness). Kecerdasan emosional juga menunjukkan tingkat motivasi intrinsik yang berkontribusi pada etos kerja yang kuat.

    Baca Juga: Macam Macam Soft Skill Yang Dapat Dikuasai

    Apa Perbedaan Hard Skill dan Soft Skill?

    Setelah mengetahui pengertian hard skill dan soft skill, kita dapat mulai menarik kesimpulan tentang perbedaanya keduanya. Dari segi pengukuran, hard skill dapat dinilai dan dideskripsikan dengan menggunakan angka atau kriteria yes or no. Di sisi lain, soft skill lebih sulit untuk dinilai dan biasanya dilihat lewat skala kualitatif.

    Di tempat kerja, soft skill akan membantu seseorang menghadapi keadaan yang berubah. Tidak peduli apapun posisi kamu, kemampuan untuk bisa berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain sangat penting. Tidak heran jika banyak perusahaan yang menuliskan beberapa soft skill ini dalam persyaratan perekrutan. Beberapa perusahaan bahkan melakukan berbagai hal untuk bisa menilai soft skill kandidat selama proses wawancara.

    Hard skill bisa dievaluasi dengan melihat resume, portofolio dan tugas-tugas yang pernah dilakukan terkait pekerjaan. Sementara itu soft skill dapat dinilai dengan mengajukan wawancara situasional dan perilaku dengan mempertimbangkan karakteristik kepribadian kandidat secara keseluruhan selama proses perekrutan kerja.

    Dalam dunia kerja, hard skill merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa melaksanakan tugas sesuai dengan posisinya. Hard skill akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam kegiatan operasional perusahaan tempat kamu bekerja. Hard skill yang mumpuni tidak hanya disenangi oleh perusahaan tapi juga bisa meningkatkan kepuasan karyawan itu sendiri.

    Bagaimana Cara Mengembangkan Soft Skill dan Hard Skill?

    Skill apapun yang dimiliki manusia bisa dikembangkan dan diperbaiki seiring dengan berjalannya waktu. Perbedaan soft skill dan hard skill berikutnya yang perlu kamu ketahui adalah cara pengembangannya. Untuk mengembangkan soft skill komunikasi misalnya, hal yang perlu kamu lakukan adalah melakukan kontak mata dengan lawan bicara, berlatih body language yang benar hingga belajar etika komunikasi lewat teks yang benar.

    Soft skill kreativitas dapat dikembangkan dengan cara brainstorming bersama rekan kerja atau saat kamu sendirian atau dengan banyak melihat karya-karya hasil kreativitas seperti buku, film dan acara televisi. Memperbanyak interaksi dengan orang-orang kreatif dengan berbagai latar belakang juga bisa memupuk kemampuan komunikasi sekaligus kreativitasmu.

    Pengembangan hard skill jauh lebih mudah didefinisikan karena sifatnya yang terukur. Beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengembangkan hard skill antara lain adalah dengan banyak latihan, membuat waktu latihan secara rutin, melakukan analisis dan evaluasi progress secara reguler hingga menguji diri dengan contoh skenario dan masalah.

    Selain melakukan latihan sendiri, pengembangan hard skill bisa kamu peroleh lewat pelatihan, workshop, seminar dan lain sebagainya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga merupakan salah satu bentuk pengembangan hard skill yang perlu dilakukan oleh para profesional.

    Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah beberapa langkah yang bisa kamu jadikan panduan.

    1. Mencari Mentor

    Mentor yang baik merupakan adalah impian bagi setiap orang yang baru memasuki dunia kerja. Mentor yang baik tidak hanya akan membuat proses pekerjaan menjadi relatif lebih lancar tetapi juga akan membuat proses belajar menjadi lebih baik.

    Dengan memiliki seseorang yang bersedia membimbingmu, kamu secara tidak langsung akan mendapatkan akses pada pengamatan serta opini dari orang yang telah lebih berpengalaman. Dengan demikian, kamu dapat mempelajari hal lebih cepat.

    Selain itu, dengan adanya mentor yang membimbing, kamu akan mengetahui hal-hal apa saja yang harus menjadi fokus dari proses belajarmu. Hal ini tentunya akan sangat membantu kamu untuk bisa langsung mulai mempelajari hal-hal yang akan membantu karir kamu ke depannya.

    Baca juga: 8 Perbedaan Bos dan Leader yang Perlu Kamu Ketahui

    2. Menciptakan Kebiasaan Yang Baik

    Proses belajar adalah sebuah proses yang panjang. Tidak jarang orang-orang berhenti di tengah jalan dan memutuskan untuk mengganti fokus.

    Jika kamu benar-benar ingin menguasai sebuah skill, maka kamu harus mulai dengan membangun kebiasaan yang baik.

    Salah satu contohnya adalah kamu bisa menerapkan langsung hal-hal apa saja yang telah kamu pelajari. Dengan menerapkannya langsung, kamu tidak hanya akan mengingat hal tersebut lebih baik, tetapi juga mendapatkan masukan tentang hal-hal apa saja yang harus kamu perbaiki.

    3. Bekerja Sama

    Proses belajar bisa sangat melelahkan. Untuk dapat membantu semangat kamu tetap tinggi, kamu bisa mengajak atau bergabung dengan orang yang sedang mempelajari skill yang sama.

    Selain mendapatkan sumber semangat baru, bekerja sama dengan orang lain juga dapat memberikan kamu insight tentang bagaimana orang lain melakukan tugas mereka yang dapat memberikan kamu perspektif baru.

    Baca Juga: 7 Manfaat Bekerja Sama Dalam Menyelesaikan Pekerjaan Sulit

    Mana yang Lebih Dicari Perusahaan, Soft Skill atau Hard Skill?

    Ketika kamu akan melamar pekerjaan, di daftar persyaratan kamu mungkin akan menemukan banyak hal yang bersifat teknis. Jika kamu melamar untuk posisi guru, kamu tentu harus memiliki ijazah yang sesuai. Seseorang yang ingin melamar menjadi desainer, juga dituntut memiliki skill mengoperasikan dan menggunakan beragam software desain. Ini adalah hal yang wajar karena tidak ada sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan seorang pengembang website untuk posisi public relation, bukan? Hal tersebut berhubungan erat dengan hard skill.

    Meskipun hard skill itu penting, perusahaan yang cerdas tahu bahwa karyawan yang baik harus memiliki keahlian lain yang mungkin lebih sulit diukur dan dikembangkan yakni soft skill. Lalu, mana yang sebenarnya lebih penting? Jawabannya: soft skill dan hard skill bukan sebuah pilihan. Keduanya adalah paket yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh seorang tenaga profesional untuk membangun karier jangka panjang. Soft skill seperti teamwork dan networking yang terbangun dengan baik akan menjadi bekal agar karier kamu berkembang lebih baik di masa depan.

    Selain melalui pendidikan formal, kamu juga dapat mengembangkan kemampuan atau skill yang kamu miliki dengan mengikuti kursus atau pelatihan, baik secara online atau offline. Beberapa kursus atau pelatihan terbaik yang dapat kamu ikuti untuk mengembangkan skill yang kamu miliki adalah latihan leadership dan kursus berbahasa di GreatNusa. Setelah memahami perbedaan soft skill dan hard skill, saatnya mengambil langkah nyata untuk mengembangkan keduanya bersama GreatNusa.

    Mengenal Team Building, Aktivitas yang Penting Untuk Kamu

    ARTICLE

    WORK CULTURE

    By greatnusa • 22 September 2021

    Mengenal Team Building, Aktivitas yang Penting Untuk Kamu

    Team building adalah hal penting dalam sebuah organisasi. Tapi apa itu team building? Simak penjelasan dan manfaat team building di sini.

    Team building adalah aktivitas yang sering dilakukan oleh perusahaan dengan mengikutsertakan para karyawan. Kegiatan team building tersebut biasanya dilaksanakan dengan mengajak karyawan untuk bepergian ke luar kota. Tak jarang, para karyawan diperbolehkan untuk ikut serta dalam kegiatan bersama dengan anggota keluarga. 

    Kegiatan team building memang dirancang agar orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya merasa senang. Sekilas, aktivitas seperti ini memang tidak terlalu penting bagi perusahaan. Namun, tahukah kamu kalau team building adalah kegiatan yang sangat penting. Lewat team bulding, kamu bisa membangun hubungan yang lebih erat dengan para karyawan yang selanjutnya bisa bermanfaat bagi bisnis. 

    Apa Itu Team Building?

    Banyak orang yang beranggapan kalau team building itu tidak ubahnya adalah aktivitas rekreasi. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah. Apalagi, aktivitas team building memang kerap dilaksanakan dengan cara menyenangkan dan santai. Namun, team building memiliki pengertian lebih dari sekadar aktivitas bersenang-senang. 

    Team building merupakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan dari setiap anggota tim. Lewat team building, setiap personal bisa memberi respek dan menghargai perbedaan dengan orang lain. Selanjutnya, mereka bisa berbagi tujuan dan meraih ekspektasi bersama. Hasilnya, masing-masing anggota tim dapat bekerja lebih efektif dan perusahaan bisa mencapai target yang telah ditetapkan. 

    Baca juga: 7 Cara Membangun Tim Kerja yang Baik

    Apa Saja Manfaat Team Building?

    Manfaat utama dari membangun team building adalah tim memiliki kepercayaan satu sama lain dan dapat bekerja dengan lebih baik. Selai manfaat tersebut, masih ada banyak manfaat dari membangun tim. Berikut adalah beberapa manfaat yang akan kamu dapat dari aktivitas membangun team building.

    1. Saling Mengenal

    Team building adalah aktivitas yang paling tepat bagi anggota tim untuk bisa saling mengenal. Apalagi, bagi kamu yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu secara remote atau jarak jauh. Sistem kerja remote memiliki kecenderungan interaksi anggota tim yang sangat minim. Oleh karena itu, tidak heran kalau mereka tidak saling kenal satu sama lain.

    Dalam aktivitas team building, kamu bisa mendorong setiap anggota tim untuk bersosialisasi dan saling mengenal. Hubungan personal yang baik antara masing-masing anggota tim berdampak positif pada suasana di tempat kerja. Di waktu yang bersamaan, mereka juga bisa melakukan kolaborasi yang lebih baik dan bekerja secara lebih efisien. 

    2. Meningkatkan Kerja Sama

    Manfaat team building yang selanjutnya adalah sarana meningkatkan kemampuan kerja sama tim. Dalam aktivitas team building, setiap personal dalam tim tidak hanya bisa kenal satu sama lain. Kesempatan tersebut juga menjadi momen bagi mereka untuk memahami kelebihan dan kekurangan dari rekan kerjanya.

    Membangun team building juga dapat menumbuhkan sikap saling percaya di antara anggota tim. Dengan saling menjalin komunikasi secara efektif, anggota tim akan memiliki kepercayaan bahwa rekan satu timnya dapat diandalkan ketika dibutuhkan.

    Pengetahuan tersebut sangat berguna bagi karyawan dalam melakukan kerja sama dalam tim. Mereka bisa memahami kelemahan dari rekan kerja dan bisa saling menutupi. Dalam situasi tersebut, setiap personal akan menunjukkan kontribusi dan potensinya masing-masing.

    Dengan demikian, baik perusahaan atau karyawan individu, akan dapat mencapai tujuan dengan lebih efektif.

    3. Mendorong Kompetisi

    Kompetisi merupakan salah satu cara yang efektif dalam mendorong produktivitas kerja karyawan. Manfaat ini bisa kamu peroleh lewat aktivitas team building. Dalam team building, setiap personal akan berusaha untuk mencari cara yang paling efektif dalam bekerja dan meraih pencapaian yang lebih baik dibandingkan tim lain. 

    4. Meningkatkan Moral dan Motivasi

    Team building sering dilaksanakan dalam bentuk aktivitas yang menyenangkan. Hal itulah yang memang menjadi tujuan dari pelaksanaan team building. Perasaan senang saat berpartisipasi dalam team building diharapkan bisa memacu motivitasi dan moral kerja para karyawan. Dengan begitu, mereka akan bekerja lebih giat dan mencapai target yang lebih besar di masa depan. 

    Baca juga: Butuh Motivasi Dalam Bekerja? Ini 6 Jenis Motivasi yang Perlu Diketahui

    5. Meningkatkan Produktivitas dan Kreativitas

    Salah satu tujuan utama membangun tim yang baik adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas dalam bekerja. Dengan komunikasi yang mereka jalin selama kegiatan membangun tim, para anggota tim akan memiliki semangat dan sudut pandang baru tentang bagaimana mereka bisa bekerja.

    Para anggota tim akan memiliki pengetahuan tentang apa saja yang anggota tim lainnya dapat lakukan. Sehingga, seorang individu bisa saja melihat sebuah cara baru untuk menyelesaikan masalah di lingkungan kerja dengan bantuan rekan kerjanya.

    Apa Saja Ide Aktivitas Team Building?

    Selanjutnya, bagaimana cara melaksanakan aktivitas team building? Caranya, kamu perlu memilih kegiatan yang tepat. Ada 5 ide aktivitas team building yang bisa kamu praktikkan, yaitu: 

    1. Scavenger Hunt

    Kegiatan pertama adalah scavenger hunt. Aktivitas ini adalah cara yang sangat efektif dalam mendorong para karyawan untuk bergerak aktif dan melakukan kolaborasi. Menariknya lagi, scavenger hunt bisa kamu lakukan secara fleksibel, bisa di dalam ruangan ataupun luar ruangan. 

    Cara pelaksanaannya sederhana. kamu bisa membagi karyawan dalam beberapa tim kecil, masing-masing terdiri dari 3 atau 5 orang. Selanjutnya, sembunyikan beberapa benda di area yang telah ditentukan. Tim pertama yang menemukan semua benda tersembunyi menjadi pemenang.

    2. Human Knot

    Cara menyenangkan selanjutnya yang bisa kamu pilih untuk mendorong kolaborasi para karyawan adalah kegiatan bernama human knot. Di waktu bersamaan, human knot merupakan aktivitas yang menyenangkan. jadi, karyawan tidak akan bosan saat berpartisipasi dalam kegiatan ini. 

    Untuk melakukannya, kamu dapat mengajak anggota tim untuk membentuk lingkaran. Lalu, minta agar masing-masing anggota untuk mengaitkan tangan satu sama lain secara acak. Selanjutnya, setiap orang berusaha untuk mengurai kaitan tanpa harus melepas gandengan tangan. 

    Untuk mendorong kompetisi, pelaksanaan human knot dapat dilakukan oleh beberapa tim sekaligus. Tim pertama yang berhasil mengurai kaitan tanpa melepaskan gandengan tangan menjadi pemenang. 

    3. Simulasi Bisnis 

    Ada pula pertimbangan untuk melakukan aktivitas simulasi bisnis. Sesuai dengan namanya, ide kegiatan ini bisa kamu lakukan sebagai simulasi dari aktivitas bisnis di dunia nyata. Dari kegiatan ini, karyawan bisa memperoleh manfaat dalam mencari solusi atas sebuah permasalahan dengan lebih cepat.

    Baca Juga: Apa Yang Dimaksud Dengan Strategi Bisnis? Seperti Apa Hal Ini Bisa Membantu Bisnis Anda?

    Simulasi bisnis bisa kamu lakukan dengan berbagai cara. Contoh, kamu dapat mengemukakan sebuah permasalahan yang biasa muncul di tempat kerja. Lalu, beberkan informasi detail berkaitan dengan tujuan, aturan, serta batas waktu penyelesaiannya. 

    Dalam kegiatan ini, para karyawan yang berpartisipasi tidak akan berhadapan dengan risiko apapun. Oleh karena itu, mereka bisa berpikir secara lebih bebas. Tidak menutup kemungkinan, mereka akan memunculkan berbagai jenis solusi yang kreatif.

    4. Perfect Square

    Ada pula kegiatan team building bernama perfect square. Caranya, kamu perlu menyiapkan tali dengan panjang setidaknya 5 meter, lalu ikat kedua ujungnya. Setelah itu, tempatkan tali tersebut di permukaan tanah dengan membentuk lingkaran. 

    Tugaskan 4 atau 8 orang untuk berdiri di bagian tengah lingkaran. Selanjutnya, tutup mata mereka menggunakan kain. Setelah memastikan penutup mata bekerja, minta mereka mundur 5 langkah. Setelah itu, perintahkan mereka untuk membentuk tali menjadi persegi. 

    5. Gokart

    Terakhir, kamu bisa memilih ide aktivitas team building berupa gokart. Kegiatan ini jadi sarana menyenangkan yang mendorong para karyawan untuk saling berkompetisi secara sehat. Dalam kegiatan ini, karyawan punya kesempatan untuk berinteraksi secara bebas dan santai.

    Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai pengertian team building. Sampai di sini, kamu sudah bisa memahami kalau team building adalah aktivitas yang sangat penting, kan? Kegiatan di dalamnya tidak hanya sekadar untuk sarana bersenang-senang, tetapi ada banyak manfaat yang bisa didapatkan. 

    Team building merupakan salah satu cara yang bisa kamu manfaatkan untuk meningkatkan kemampuan para karyawan. Sebagai tambahan, pertimbangkan pula untuk berpartisipasi dalam berbagai course di GreatNusa. Di sini, kamu bisa menemukan berbagai jenis course yang bermanfaat dalam pengembangan diri dan bisnis. 

    13 Tipe Kepemimpinan Dalam Dunia Profesional

    ARTICLE

    WORK CULTURE

    By greatnusa • 28 Februari 2023

    13 Tipe Kepemimpinan Dalam Dunia Profesional

    Tipe kepemimpinan dalam dunia profesional ada beragam, seperti demokratis, visioner, liberal, hingga birokratis. Temukan penjelasannya di artikel ini.

    Karyawan menjadi salah satu aset penting bagi perusahaan. Pasalnya, kesuksesan sebuah bisnis sangat bergantung pada performa atau kinerja dari karyawan. Supaya karyawan bisa memberikan kinerja paling baik, tentu banyak sekali faktor yang berpengaruh. Salah satunya adalah tipe kepemimpinan atasan. 

    Bukan tanpa alasan, sebaik apapun performa karyawan dalam melakukan tugasnya, tidak akan ada hasilnya jika pemimpin atau atasan tidak memberikan mereka kesempatan untuk menggali kemampuan lebih jauh. Jika ini dibiarkan, siap-siapa saja perusahaan kehilangan karyawan terbaiknya.

    Fungsi Kepemimpinan dalam Organisasi atau Perusahaan

    Ada fungsi-fungsi kepemimpinan yang idealnya dimiliki oleh seorang pemimpin dalam memenuhi target yang hendak dicapai, yakni sebagai berikut:

    1. Memimpin (Leading) 

    Tanggung jawab utama seorang pemimpin adalah untuk menginspirasi, menginformasikan, dan membimbing tim mereka saat mereka bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan. Saat memimpin, seorang pemimpin harus menetapkan tugas kepada orang yang tepat dan memutuskan siapa yang akan melakukan setiap pekerjaan. Untuk meningkatkan semangat anggotanya, seorang pemimpin menggunakan berbagai filosofi kepemimpinan.

    2. Merencanakan (Planning)

    Seorang pemimpin yang cerdas menerapkan strategi perencanaan untuk mengidentifikasi tujuan perusahaan dan menciptakan tindakan masa depan yang harus dicapai. Ini sering terjadi ketika sebuah bisnis berusaha untuk meningkatkan penjualan dan memperluas eksistensi yang lebih luas.

    3. Mengorganisasi (Organizing)

    Setelah semua persiapan selesai, tugas kepemimpinan selanjutnya adalah mengatur. Ini akan digunakan oleh para pemimpin untuk meningkatkan bisnis. Pemimpin akan mulai mengoordinasikan semua sumber daya yang tersedia untuk menyelesaikan tugas atau proyek organisasi. Sebagai seorang pemimpin, Anda akan memastikan bahwa sumber daya ini diterapkan dengan benar untuk meningkatkan kinerja staf.

    4. Menyusun Staff (Staffing)

    Pengorganisasian pegawai di dalam organisasi menjadi tanggung jawab pimpinan dalam hal staffing. Seorang pemimpin dapat memilih untuk menambah pekerja seperlunya jika dia mengetahui tujuan perusahaan. Proses perekrutan melibatkan menemukan, memilih, dan melatih kandidat sehingga mereka dapat terus memberikan kontribusi yang berguna bagi bisnis.

    5. Mengendalikan (Controlling)

    Seorang pemimpin bertanggung jawab tidak hanya untuk menjalankan bisnis, tetapi juga untuk mengawasi atau mengendalikan dalam perusahaan. Peran pengendalian adalah untuk memastikan bahwa pekerjaan dilakukan sesuai dengan kebijakan perusahaan. Seorang pemimpin juga memiliki wewenang untuk melakukan hal-hal tertentu untuk memastikan bahwa rencana tersebut berjalan sebagaimana yang dimaksud.

    Apa Saja Gaya Kepemimpinan di Organisasi atau Perusahaan?

    Sebelum membahas lebih lanjut tentang gaya kepemimpinan yang dapat ditemukan, kamu harus tahu bahwa tidak ada tipe kepemimpinan yang sempurna. Setiap konteks atau situasi membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda.

    Gaya memimpin dikatakan ideal apabila mampu memberi dukungan sekaligus motivasi untuk semua karyawan. Memang benar, setiap pemimpin memiliki caranya masing-masing. Untuk itu kamu perlu tahu apa saja sih tipe kepemimpinan yang biasa dijumpai di perusahaan. Berikut beberapa di antaranya: 

    1. Tipe Kepemimpinan Demokratis

    Hingga kini, sepertinya tipe kepemimpinan demokratis masih menjadi tipe yang disukai karyawan. Bukan tanpa alasan, gaya pemimpin demokratis akan tetap bertanggung jawab penuh terhadap semua karyawan dengan tetap memberikan kebebasan sepenuhnya untuk karyawan menyelesaikan beban pekerjaan sesuai dengan kemampuan.

    Tidak ketinggalan, pemimpin yang demokratis umumnya akan sangat bergantung pada komunikasi. Hal tersebut akan membantu pemimpin untuk melihat performa karyawan sehingga mampu memberikan apresiasi yang tepat.

    Baca Juga: 4 Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi

    2. Tipe Kepemimpinan Transformasional

    Secara ideal, pemimpin yang menggunakan gaya transformasional memiliki kemampuan dalam memberikan inspirasi dan perubahan yang positif kepada para karyawan. Ini karena sang pemimpin akan turut berpartisipasi atau terlibat secara langsung dalam aktivitas kerja untuk memberikan bantuan pada karyawan yang membutuhkan. Keterlibatan ini akan membuat karyawan merasa termotivasi untuk terus bersemangat dalam bekerja. 

    Biasanya, tipe kepemimpinan transformasional sering dijumpai pada bisnis startup dengan skala kecil. Oleh karena jumlah karyawan yang belum terlalu banyak, jadi pemimpin akan turut terlibat dalam semua aktivitas operasional perusahaan. Ini akan membuat para karyawan termotivasi untuk bekerja dengan keras dan memajukan serta membesarkan perusahaan bersama-sama. 

    3. Tipe Kepemimpinan Visioner

    Selanjutnya adalah bentuk kepemimpinan visioner, dengan ciri khas pemimpin yang kerap merancang berbagai strategi, perencanaan, dan metodenya. Biasanya, pemimpin akan sering membuat perencanaan atau strategi untuk kebutuhan perusahaan di masa depan, bahkan bisa jadi hal tersebut belum terlintas di benak para karyawan.

    Nah, untuk mendukung keberhasilan rencana tersebut, pemimpin dengan tipe ini akan sangat sering mengadakan pertemuan atau rapat untuk berdiskusi dengan para karyawan. 

    4. Tipe Kepemimpinan Situasional

    Ciri khas pemimpin dengan gaya situasional adalah selalu terlihat fleksibel dan tidak terpaku pada satu kondisi. Artinya, pemimpin akan beradaptasi dan menyesuaikan bagaimana ia memimpin dalam perusahaan yang sesuai dengan kondisi karyawan.

    Sama halnya dengan transformasional, bentuk kepemimpinan ini juga banyak dijumpai pada perusahaan startup yang memiliki kondisi bisnis yang terbilang belum stabil dibandingkan dengan perusahaan berskala besar. 

    Secara umum, pemimpin dengan gaya situasional akan memiliki empat karakter berikut ini saat memimpin organisasi:

    • Participating and supporting atau bekerja sama, selalu memberikan dukungan, dan ikut terlibat dalam aktivitas perusahaan.
    • Selling and coaching atau membujuk, memberikan penjelasan, dan bersifat menjual.
    • Delegating atau mengamati, membantu menyelesaikan, memantau, dan mendelegasikan.
    • Telling and directing atau memberikan keputusan dan kebijakan. 

    5. Tipe Kepemimpinan Fasilitator

    Nah, untuk bentuk kepemimpinan satu ini, ciri khas utama yang bisa diperhatikan adalah cenderung berfokus terhadap hasil. Sebenarnya, ini tidak selalu menjadi hal yang buruk, terlebih dengan pemimpin yang memiliki karakter tidak sering terlibat dalam proses kerja karyawan. Sering kali, pemimpin baru akan melihat situasi langsung di lapangan hanya jika ada karyawan yang tidak mampu melakukan tanggung jawabnya dengan baik. 

    Memiliki pemimpin dengan gaya fasilitator memiliki kelebihan utama yaitu adanya kesempatan luas untuk para karyawan mengetahui banyak metode atau cara baru yang bisa jadi lebih mudah dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab.

    Namun, perlu ditekankan bahwa pemimpin tidak boleh mengajukan komplain asalkan pekerjaan selesai sesuai dengan peraturan yang berlaku di perusahaan meski dengan cara yang berbeda. Umumnya, pemimpin dengan gaya fasilitator banyak ditemui pada perusahaan skala menengah atau memiliki bisnis yang sudah cukup berkembang serta telah menerapkan SOP tertentu. 

    6. Tipe Kepemimpinan Multikultural

    Tipe kepemimpinan multikultural akan sering ditemukan pada perusahaan yang memiliki karyawan dengan latar belakang budaya yang berbeda atau lintas budaya. Biasanya, sebagian besar perusahaan tipe multinasional akan menerapkan tipe ini sehingga lebih mudah dalam menjangkau semua karyawan. Secara sederhana, pemimpin dengan gaya multikultural harus mampu menerima dan menghargai budaya yang dibawa setiap karyawan. 

    Baca Juga: 5 Cara Bekerja Sama Dalam Keberagaman Yang Efektif

    Contoh mudah yang bisa dilakukan adalah mengadakan kegiatan tukar kado pada saat perayaan Natal atau mengadakan aktivitas buka puasa bersama saat bulan Ramadan. Meski kadang terlihat sepele, bentuk apresiasi ini akan membuat para karyawan merasa dihormati, dilibatkan, dan diterima di perusahaan. Sudah pasti, dampak positif yang bisa diambil adalah karyawan akan menjadi loyal, lebih bertanggung jawab, dan perusahaan pun semakin berkembang. 

    7. Tipe Kepemimpinan Liberal

    Jika dilihat dari arti kata liberal sendiri yang berarti bebas, pemimpin dengan gaya ini sudah pasti akan memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan. Selain tipe demokratis, pemimpin dengan tipe liberal juga lebih disukai karyawan karena memberikan kenyamanan dan keleluasaan untuk bekerja sehingga pekerjaan pun akan segera selesai. Terlebih, pemimpin cenderung tidak mengganggu atau mengintervensi setiap cara kerja karyawan tetapi tetap mengawasi kinerja mereka.

    Baca Juga: Definisi Dan Cara Evaluasi Kinerja Karyawan

    8. Tipe Kepemimpinan Birokratis

    Apabila seorang pemimpin cenderung melibatkan para karyawan saat melakukan pengambilan keputusan untuk perusahaan, artinya pemimpin tersebut menerapkan gaya birokratis. Meski begitu, tipe pemimpin satu ini bisa dikatakan lebih ketat dalam membuat peraturan. Mudahnya, ketika suatu pekerjaan telah diatur tenggat waktunya, pemimpin dengan tipe ini berharap tidak ada kata terlambat untuk alasan apapun. Biasanya, perusahaan dengan fokus bisnis pada aspek kesehatan dan keamanan menerapkan gaya kepemimpinan ini. 

    9. Tipe Kepemimpinan Strategis

    Memilih pemimpin dengan gaya strategis dalam perusahaan biasanya tak hanya berdasar level atau posisinya saat ini. Pemilihan pemimpin ini umumnya dilakukan untuk bisa mencapai tujuan perusahaan yang lebih besar lagi.

    Tentunya untuk membentuk kinerja dan performa yang lebih lebih baik di perusahaan. Sering kali, tipe pemimpin strategis sangat dibutuhkan saat perusahaan sedang berada dalam masa transisi atau adaptasi. Artinya, pemimpin diharapkan mampu memberikan peran dan bantuan untuk kelancaran masa transisi perusahaan tersebut.

    10. Tipe Kepemimpinan Karismatik

    Kepemimpinan karismatik bisa dibilang adalah salah satu bentuk kepemimpinan yang paling umum. Jenis pemimpin ini mengedepankan nilai-nilai positif serta kepribadian yang kuat. Pemimpin ini dapat menjadi contoh bagi para anggota tim dan mengajak mereka menjadi lebih baik.

    11. Tipe Kepemimpinan Otoriter

    Kepemimpinan otoriter atau otokratis adalah jenis kepemimpinan di mana seorang atas memiliki kendali penuh atas segalanya. Mulai dari peraturan, prosedur, hingga, keputusan semuanya berada di tangan pemimpin.

    Tipe kepemimpinan akan efektif ketika kamu butuh mengambil keputusan dengan cepat. Tetapi, secara jangka panjang, tipe kepemimpinan ini akan membuat lingkungan kerja yang tidak nyaman karena karyawan merasa tidak punya kebebasan.

    12. Tipe Kepemimpinan Delegatif

    Berbeda dengan tipe kepemimpinan otoriter, gaya kepemimpinan delegatif adalah jenis kepemimpinan yang memberikan wewenang pada para karyawan untuk mengambil keputusan.

    Jenis kepemimpinan akan membuat para karyawan merasa terlibat dan memiliki peran dalam perusahaan. Tetapi, efek sampingnya adalah para karyawan dapat saling melempar tanggung jawab ketika kesalahan terjadi. Hal ini karena keputusan tidak hanya dibuat oleh satu orang.

    13. Tipe Kepemimpinan Transaksional

    Sesuai dengan namanya, gaya kepemimpinan transaksional adalah jenis kepemimpinan yang serupa dengan situasi jual-beli; seorang pemimpin akan memberikan tugas dan karyawan akan meneyelesaikannya.

    Jika karyawan berhasil menyelesaikan tugasnya, maka Ia akan mendapatkan imbalan. Tetapi, jika gagal menyelesaikannya, karyawan tersebut akan mendapatkan hukuman.

    Jadi, manakah tipe kepemimpinan yang sesuai dengan karakteristik dirimu? Jika kamu ingin mengasah jiwa kepemimpinan agar bisa menjadi leader di perusahaan impian, kamu bisa bergabung dan mengikuti pelatihan kepemimpinan di GreatNusa. Tidak hanya itu, banyak sekali course yang bisa kamu pilih sesuai minat dan kebutuhanmu di sini, topiknya sudah pasti berkualitas dengan konsep belajar yang adaptif dan fleksibel. 

    Punya waktu luang bukan berarti harus disia-siakan. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan, tentunya yang utama adalah membekali diri dengan ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin. Yuk, belajar bersama dan dapatkan pengalaman berharga di GreaNusa!

    Work Life Balance, Cara Untuk Menyeimbangkan Hidupmu

    ARTICLE

    WORK CULTURE

    By greatnusa • 22 September 2021

    Work Life Balance, Cara Untuk Menyeimbangkan Hidupmu

    Work life balance adalah hal yang harus dikuasai oleh pekerja zaman sekarang. Apa itu work life balance? Simak penjelasan lengkapnya di sini.

    Work life balance adalah salah satu hal yang harus diperhatikan benar-benar baik oleh karyawan ataupun perusahaan. Mengapa demikian?

    Karena, beberapa dari kamu mungkin sering merasa tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai akibat terlalu sibuk bekerja. Bahkan, tak jarang masih membawa pekerjaan ke rumah sehingga waktu istirahat pun terpotong. Jika kamu termasuk golongan pekerja yang mengalami ini, mungkin sudah saatnya kamu mencoba menerapkan konsep work life balance. 

    Apakah yang dimaksud dengan work life balance? Bagaimana cara meraihnya? Beberapa pembahasan di bawah ini mungkin bisa menjadi jawaban. 

    Keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi gaya hidup

    Apa Itu Work Life Balance?

    Secara harfiah, pengertian work life balance adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Secara teknis, work life balance adalah kondisi di mana seorang pekerja dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik namun tidak kehilangan momen atau waktu untuk kebutuhan pribadi, rekreasi, dan kehidupan berkeluarga.

    Dalam dunia kerja, work life balance dapat memengaruhi produktivitas seseorang. Hal ini karena dengan menjaga keseimbangan, energi yang tersalurkan untuk masing-masing kebutuhan pun akan terjaga kestabilannya. Dengan memiliki waktu yang cukup untuk mengurus pekerjaan dan kehidupan pribadi, seorang pekerja dapat memiliki fisik dan mental yang optimal untuk terus berkembang.

    Tren untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan saat ini banyak digaungkan oleh para pekerja muda. Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, semakin tinggi pula kesadaran pekerja bahwa waktu yang mereka miliki tidak seharusnya hanya dihabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor.

    Tak heran, kini banyak pekerja yang tidak ragu menanyakan kepada kantor tempat mereka bekerja tentang batasan tanggung jawab dan jam kerja yang wajib mereka penuhi sebelum memutuskan untuk bergabung dengan sebuah perusahaan. 

    Baca juga: 7 Ciri-Ciri Profesionalisme yang Harus kamu Miliki

    Apa Saja Manfaat Work Life Balance untuk Kerja dan Kehidupan Pribadi?

    Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, work life balance dapat memengaruhi kehidupan seseorang secara menyeluruh. Tak hanya sebatas kehidupan di kantor, namun juga di lingkungan pribadinya. Berikut ini beberapa manfaat yang bisa kamu dapatkan dengan menjaga work life balance. 

    1. Kesehatan Lebih Terjaga 

    Work life balance dikenal sebagai solusi untuk gaya hidup yang lebih sehat. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jika seorang pekerja bisa mengatur keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadinya, maka Ia akan memiliki kondisi fisik dan mental yang lebih prima.

    Hal ini berkaitan erat dengan kepuasan hidup yang kamu raih karena mampu menyelesaikan kewajiban dan melakukan kegiatan yang menyenangkan secara beriringan.  Dengan kata lain, work life balance dapat meningkatkan kebahagiaan.  

    Meningkatnya kebahagiaan seseorang tentu akan membuatnya lebih mudah berpikir positif dan optimistis. Dengan demikian, kesehatan mental pun akan terjaga. Dengan kestabilan mental yang terjaga, seseorang juga akan terhindar dari rasa tertekan ketika bekerja sehingga imun tubuh pun akan meningkat. 

    2. Dapat Mengembangkan Diri 

    Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, dengan menjaga work life balance, seseorang tidak hanya akan sibuk dengan pekerjaan, namun memiliki waktu juga untuk mengerjakan hal lain. Misalnya saja, mengembangkan hobi, mengikuti kursus, atau bergabung dengan komunitas sesuai minat. Dengan demikian, ia dapat mengembangkan kemampuan dirinya di bidang lain.

    Tak hanya dapat mengasah kemampuannya di bidang lain, kegiatan semacam ini juga dapat membantu memperluas koneksi dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Terpenuhinya kebutuhan untuk mengembangkan diri ini mampu meningkatkan kualitas hidup seseorang.  Dengan kata lain, kamu tidak hanya akan bekerja seperti robot, atau istilah lain yang sering digunakan: budak korporat. 

    3. Kualitas Hubungan Meningkat

    Masalah lain yang muncul akibat terlalu sibuk bekerja adalah kurangnya kualitas hubungan dengan orang dekat, seperti teman, pasangan, hingga keluarga. Tak jarang, kamu mungkin mendengar protes dari mereka karena merasa tidak diprioritaskan. Padahal, kamu sebenarnya tidak perlu memilih antara pekerjaan dan orang tersayang, selama kamu dapat menerapkan work life balance. 

    Kuncinya ada pada menjaga keseimbangan. Dengan demikian, pekerjaan dapat selesai tanpa harus mengabaikan hubungan dengan orang terdekat. Meningkatnya kualitas hubungan kemudian berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas kehidupan. Sebab, secara langsung, ketika melihat orang yang kamu sayangi bahagia, kamu pun akan merasa bahagia. 

    Apa Saja Faktor yang Memengaruhi Work Life Balance?

    Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi seseorang untuk dapat meraih work life balance. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Karakteristik Pribadi 

    Individu yang telah terbentuk kebiasaan baiknya sejak kecil, cenderung memiliki work life balance yang baik ketika dewasa. Di samping itu, sikap dari setiap individu juga merupakan salah satu faktor yang mendukung. Dalam artian, ketika dihadapkan antara masalah, individu yang cenderung memiliki kesadaran untuk terus mengevaluasi diri akan lebih mudah meraih work life balance. 

    2. Karakteristik Keluarga 

    Kestabilan kondisi keluarga merupakan faktor kedua yang memengaruhi work life balance seseorang. Oleh sebab itu, penting untuk menjaga peran dalam keluarga dan menghindari konflik di rumah. Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis dengan peran individu yang jelas terbukti lebih mudah dalam memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan. 

    3. Karakteristik Pekerjaan

    Pola kerja, beban kerja, dan durasi kerja juga merupakan faktor lain yang memengaruhi work life balance seseorang. Jika tidak diatur dengan baik, hal ini dapat memicu konflik, baik dengan diri sendiri maupun orang sekitar. Dampaknya, bukan hanya pekerjaan yang menjadi tidak maksimal, namun juga kualitas hubungan dengan orang sekitar, sulit untuk dibangun. 

    Baca juga: 7 Cara Mengatasi Konflik dalam Organisasi

    Bagaimana Cara Mencapai Work life balance?

    Pada dasarnya, untuk mencapai work life balance memang dimulai dari dalam diri individu tersebut sendiri. Adapun beberapa cara yang dapat kamu coba adalah sebagai berikut: 

    1. Meninggalkan Pekerjaan di Kantor

    Ketika jam kerja kamu telah berakhir, usahakan untuk meninggalkan pekerjaan di kantor. Sebagai pekerja, kamu juga memiliki hak untuk mengabaikan pesan tentang pekerjaan di luar jam kantor atau ketika libur. Bila perlu, sejak awal kamu bergabung dengan perusahaan tersebut, tegaskan pada atasanmu bahwa kamu tidak menerima pekerjaan di luar jam kantor. 

    2. Hindari Menunda Pekerjaan

    Segera selesaikan pekerjaan kamu dan jangan hanya berpatokan dengan deadline dari atasan. Jika atasanmu memberikan pekerjaan banyak dalam waktu bersamaan, buatlah timeline kerja kamu sendiri, dengan mempertimbangkan skala prioritas dan membuat deadline pribadi. Langkah ini akan membantu mengatur pekerjaan mana yang perlu kamu selesaikan lebih awal sehingga pola kerja kamu pun akan terbentuk dengan sendirinya.

    Baca Juga: Pengertian Manajemen Waktu Cara Menerapkannya

    3. Meminta Bantuan

    Jangan sungkan untuk meminta bantuan rekan kerja ketika kamu merasa beban kerja terlalu besar dibandingkan orang lain. Sampaikan kepada rekan kerja dan atasan setiap kamu merasa kesulitan menyelesaikan sesuatu. Jangan sampai, karena merasa sungkan meminta bantuan, pekerjaan malah tidak dapat selesai dengan optimal. 

    Baca juga: 10 Alasan Pentingnya Team Work Dalam Bekerja

    4. Berbagi Keluhan dengan Orang Terdekat

    Berbagi keluhan dengan bercerita ke orang terdekat pun dapat membantu meringankan beban pikiranmu. Tak hanya itu, langkah ini juga dapat membantu orang sekitar memahami posisi yang sedang kamu hadapi. Dengan komunikasi yang baik, kualitas hubunganmu dengan orang terdekat pun akan semakin baik. 

    5. Luangkan Waktu untuk Rekreasi 

    Tak ada salahnya bersenang-senang di waktu luang. Gunakan waktu di luar jam kerjamu untuk mengerjakan hal-hal yang kamu sukai, misalnya melakukan hobi, berjalan-jalan dengan keluarga, atau sekadar menonton TV di rumah. Meluangkan waktu untuk kegiatan rekreasi ini penting karena mampu menyegarkan pikiran sebelum kembali bekerja. 

    Baca Juga: 8 Cara Hilangkan Migraine Akibat Stres Yang Efektif

    6. Luangkan Waktu untuk Olahraga

    Tujuan dari work life balance adalah untuk menghindarkan karyawan dari stress yang berlebih. Salah satu cara melepas stress yang cukup baik adalah dengan berolahraga.

    Dengan olahraga, kamu juga tidak hanya akan melepas stress tetapi juga melatih tubuhmu untuk menjadi lebih kuat. Dengan tubuh yang kuat, diharapkan kamu akan dapat memiliki daya tahan yang lebih tinggi.

    Olahraga juga adalah cara untuk menghabiskan waktu dengan baik di luar lingkungan kerja. Kamu bisa mengajak orang-orang terdekat untuk menghabiskan waktu bersama dengan lari kecil atau bersepeda sebelum memulai aktivitas sehari-hari.

    Demikian beberapa hal tentang work life balance dan cara untuk meraihnya. Bila kamu tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pembahasan ini, kamu dapat mendaftarkan diri dalam program kursus online yang diadakan oleh GreatNusa. Dalam program tersebut, kamu pun akan mendapatkan solusi terbaik untuk menjaga keseimbangan hidup, baik di dalam maupun di luar pekerjaan.

    Mengenal Strategi Kepemimpinan dalam Dunia Kerja

    ARTICLE

    CAREER HACK

    By greatnusa • 14 Maret 2022

    Mengenal Strategi Kepemimpinan dalam Dunia Kerja

    Kenali strategi kepemimpinan baik definisi dan tipsnya, seperti berkomunikasi dengan efektif dan holistik. Temukan informasinya di artikel ini.

    Ketika mendengar istilah “kepemimpinan strategis”, kamu mungkin membayangkan sebuah ruangan berisi para eksekutif yang sedang menyusun strategi untuk organisasi mereka. Namun, seharusnya, kepemimpinan strategis tidak hanya datang dari orang-orang yang berada di posisi atas. Setiap tingkatan dalam organisasi juga perlu menerapkannya, apalagi untuk menghadapi sejumlah urusan yang tak dapat diprediksi dari waktu ke waktu.

    Maka dari itu, dalam pembahasan kali ini, kami akan menguraikan seluk-beluk dari strategi kepemimpinan, mulai dari pengertian, tips, hingga macam-macam keahliannya. Yuk, simak dengan saksama!

    Apa Itu Strategi Kepemimpinan?

    Strategi kepemimpinanmemberikan cakupan dan arahan untuk membantu menyukseskan organisasi. Bagian utama dari kesuksesan tersebut berasal dari pengelolaan perubahan terus-menerus secara efektif melalui pengembangan proses dan manusia. Oleh sebab itu, semua eksekutif dan manajer harus punya alat yang dibutuhkan untuk menyusun dan mengimplementasikan strategi, lalu menggunakannya di momen yang tepat.

    Baca Juga: 9 Tipe Kepemimpinan Dalam Dunia Profesional

    Pengelolaan lingkungan yang dinamis dan penuh ketidakpastian membutuhkan para pemimpin strategis yang secara konsisten mempertahankan arah, sekaligus membangun sasaran dan objektif untuk tim yang mereka pimpin. Kepemimpinan strategis bisa dibilang berhasil jika menggabungkan elemen manusia, sudut pandang analitis, dan taktik cerdas.

    Apa Saja Tips Menjadi Pemimpin Strategis?

    Bagaimana cara menjadi pemimpin strategis yang baik? Ikuti tips berikut!

    1. Memiliki Visi Yang Jelas

    Visi merupakan bagian penting dari seorang pemimpin strategis. Visi akan mempengaruhi seluruh rencana perusahaan, baik jangka panjang atau pendek.

    Selain itu, visi juga akan menjadi bagian penting saat akan menyusun strategi perusahaan. Pemimpin yang strategis harus bisa menjalankan operasi dengan jadwal padat, hasil jangka pendek, dan fokus jangka panjang.

    Tidak semua kepemimpinan memerlukan pandangan masa depan untuk menjadi efektif. Namun, pemimpin operasional harus mampu mengelola fungsi sehari-hari dan andal dalam bekerja sama dengan anggotanya.

    2. Fokus pada Perubahan

    Pemimpin strategis sering kali menjadi “pengemudi” dari perubahan organisasi. Terlebih, pekerjaan mereka akan memberikan pengaruh yang sangat besar. Namun, seorang pemimpin strategis harus tahu waktu yang tepat untuk merencanakan dan mengimplementasikan perubahan.

    Baca Juga: Apa Saja Perbedaan Pemimpin dan Manajer?

    Apa Saja Keahlian Yang Dibutuhkan Pemimpin Strategis?

    Apa saja keahlian yang harus dikuasai oleh pemimpin strategis?

    1. Bisa Mengantisipasi

    Banyak organisasi dan pemimpin yang payah dalam mendeteksi ancaman dan peluang yang berada di lingkup bisnis mereka. Namun, pemimpin strategis harus terus waspada dan mengasah kemampuan mereka dalam mengantisipasi dengan memperhatikan sinyal perubahan yang ada dalam lingkungan sekitar.

    Bagaimana cara meningkatkan kemampuan ini? Berikut beberapa tipsnya:

    • Melakukan riset pasar dan bisnis untuk memahami perspektif kompetitor, mengukur kecenderungan reaksi mereka terhadap produk atau inisiasi baru, dan memprediksi potensi penawaran yang merugikan.
    • Berbicara dengan pelanggan, pemasok, dan mitra untuk mengetahui tantangan mereka.
    • Mencatat pelanggan yang baru-baru ini “kabur” dan mencari tahu alasannya.
    • Menengok rival dengan pertumbuhan pesat dan menyelidiki tindakan mereka yang membuat bisnis perusahaan terganggu.
    • Datang ke konferensi dan acara di sektor industri lain.
    • Menggunakan perencanaan skenario untuk memprediksi berbagai kemungkinan masa depan dan menyiapkan perusahaan dalam menghadapi kejadian tak terduga.

    2. Siap Menghadapi Tantangan

    Pemikir strategis tidak bersantai-santai saat kondisi status quo. Mereka menantang asumsi diri sendiri maupun orang lain serta mendorong sudut pandang yang berbeda. Pemimpin strategis baru bertindak tegas ketika telah merenungkan dan meneliti problem dari ‘kacamata’ yang beragam. Keahlian ini membutuhkan kesabaran, pemikiran terbuka, dan keberanian.

    Untuk mengembangkan kesiapan dalam menghadapi tantangan, kamu perlu menerapkan langkah-langkah berikut:

    • Mencatat asumsi di masa lalu dan menanyakan beragam kelompok apabila dugaan tersebut benar.
    • Mendorong debat dengan mengadakan pertemuan “zona aman” yang mempersilakan dan mengharapkan konflik sehat dan dialog terbuka.
    • Fokus pada akar permasalahan ketimbang gejalanya.
    • Membuat perubahan posisi demi menunjukkan tujuan untuk tidak bersantai selama status quo.
    • Melibatkan penentang dalam proses pembuatan keputusan untuk mengetes tantangan lebih awal.
    • Ambil masukan dari orang-orang yang tidak terpengaruh sebuah keputusan secara langsung—bisa jadi mereka punya pandangan yang bagus.

    3. Cermat Melakukan Interpretasi

    Pemimpin yang menghadapi tantangan dengan baik biasanya akan bertemu dengan informasi yang kompleks dan bertentangan. Itulah alasan mengapa pemimpin harus mampu berinterpretasi. Ketimbang terus-terusan mendengar dan melihat apa yang diinginkan, kamu perlu menyatukan semua masukan yang ada. Pemimpin strategis juga harus mengenali pola masalah, memecah keraguan, dan mencari wawasan baru.

    Inilah beberapa cara untuk mengembangkan keahlian interpretasi:

    • Dorong dirimu untuk melihat detail sekaligus melihat gambaran besar terkait permasalahan.
    • Mencari bukti dan informasi “hilang” secara aktif yang menyangkal hipotesismu.
    • Ketika menganalisis data yang ambigu, catat setidaknya tiga penjelasan paling memungkinkan dan mengundang pihak lain yang memiliki pandangan berbeda.
    • Lengkapi observasi dengan analisis kuantitatif.
    • Istirahatkan tubuh dan jiwa untuk merangsang pemikiran terbuka.

    4. Berani Mengambil Keputusan

    Kerap kali, orang-orang berhadapan dengan informasi yang tak lengkap dan harus memutuskan sesegera mungkin. Namun, pemikir strategis akan mengumpulkan banyak opsi dan tidak terpaku dengan pilihan simpel seperti “lakukan” atau “jangan lakukan”. Mereka tidak langsung kelabakan dan mengikuti proses secara cermat. Kesimpulannya, seorang pemimpin strategis perlu memiliki keberanian atas keyakinannya—berdasarkan proses pembuatan keputusan yang kukuh.

    Inilah cara mengembangkan keahlian untuk memutuskan:

    • Menyusun kriteria keputusan untuk proyek jangka pendek dan jangka panjang.
    • Membagi keputusan besar menjadi potongan-potongan kecil agar dapat memahami setiap komponen dan melihat konsekuensi yang tak disengaja dengan lebih baik.
    • Menentukan orang-orang yang perlu terlibat dan pihak yang bisa memengaruhi keberhasilan putusan.

    Baca Juga: 10 Strategi Pengambilan Keputusan Yang Efektif

    5. Tak Berhenti Belajar

    Pemimpin strategis merupakan pusat dari pembelajaran organisasi. Mereka harus mengangkat budaya bertanya dan mencari hikmah dari hasil yang sukses maupun tidak sukses. Pemimpin strategis juga perlu belajar dari kesalahan diri sendiri dan tim secara terbuka dan konstruktif.

    6. Melihat Persoalan secara Holistik

    Pendekatan holistik merupakan salah satu metode penyelesaian masalah paling efektif. Cara berpikir ini mendorong seseorang untuk memahami bahwa setiap perubahan kecil akan memengaruhi aspek secara keseluruhan. Bebas dari pola pikir sendiri dan melihat dari perspektif baru dapat membantu menuntaskan persoalan.

    Pemikiran holistik sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin strategis. Pemimpin harus bisa melihat permasalahan lewat gambaran besar. Tak hanya itu, segala problem interpersonal patut diselesaikan dengan cara mencari akar konflik supaya membuahkan solusi jangka panjang sekaligus membuat semua pihak yang terlibat merasa lega.

    Bagaimana cara menerapkan pendekatan holistik dalam kepemimpinan strategis? Cobalah lihat persoalan dari segala sisi, gunakan informasi yang akurat dan relevan, hindari asumsi tanpa dasar, tidak menyudutkan pihak yang bersalah, serta jadilah pendengar yang baik.

    7. Komunikasi Yang Efektif

    Kemampuan komunikasi efektif merupakan hal penting bagi seorang pemimpin strategis. Seorang pemimpin bisa saja memiliki visi yang cemerlang. Tetapi, jika pemimpin tersebut tidak dapat mengkomunikasikannya dengan pihak lain, maka visi tersebut akan sulit untuk terwujud.

    Baca Juga: Mengenal Apa Itu Interpersonal Skill Dalam Organisasi

    Komunikasi juga merupakan kemampuan penting untuk mengolah sumber daya. Dengan komunikasi yang baik, kamu akan dapat mengerti kebutuhan setiap anggota tim dengan baik. Dengan begitu, kamu dapat menciptakan suasana dan lingkungan yang baik bagi seluruh anggota tim.

    Selain itu, komunikasi yang baik juga dapat membantu meminimalisir miskomunikasi yang dapat berdampak pada terhambatnya sebuah pekerjaan.

    Itulah seluk-beluk kepemimpinan strategis yang perlu kamu pahami. Kesimpulannya, kepemimpinan strategis adalah suatu cara dalam berpikir dalam bertindak. Strategi kepemimpinanyang paling efektif bukan hanya mengajarkan para pemimpin tentang cara-cara menyusun taktik. Metode ini juga berorientasi pada perubahan, fokus pada masa depan, serta memperluas wawasan mereka.

    Apakah menurutmu informasi kali bermanfaat? Kalau begitu, jangan lupa berkomentar dan tekan tombol “share”, ya!

    Mau tahu lebih jauh tentang kepemimpinan? Yuk, belajar melalui kursus di GreatNusa!

    • 1
    • More pages
    • 3
    • 4
    • 5
    • More pages
    • 74
    Baca Selengkapnya
    Baca Selengkapnya
    Baca Selengkapnya
    Baca Selengkapnya
    Baca Selengkapnya
    Baca Selengkapnya