Menampilkan 55 - 60 dari 441 Artikel
By greatnusa • 29 Maret 2023
Kenali indikator lingkungan kerja untuk bisa mendapatkan work-life balance yang baik. Simak informasi lengkapnya di artikel berikut ini.
Memiliki lingkungan kerja yang optimal adalah impian setiap orang. Sayangnya, hal tersebut masih sulit didapatkan, baik oleh lulusan baru atau seorang profesional yang sudah bekerja puluhan tahun. Untuk membantu kamu mendapatkan lingkungan kerja yang ideal, perhatikan beberapa indikator lingkungan kerja yang bisa menjadi penunjuk apakah sebuah lingkungan kerja sangat baik atau masuk dalam kategori toxic.
Lingkungan kerja adalah salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dengan matang oleh setiap karyawan. Pasalnya, faktor yang satu ini sangat berpengaruh terhadap banyak hal, mulai dari produktivitas dan pemenuhan tanggung jawab perusahaan, keselamatan dan kesehatan baik fisik maupun mental, hingga kepuasan personal atas sebuah pencapaian (aktualisasi diri).
Oleh sebab itu, mencari tahu terlebih dahulu lingkungan kerja yang diharapkan sangatlah penting. Sebab dalam banyak kejadian, karyawan mengeluh hingga mengalami burnout berkepanjangan karena lingkungan yang tidak kondusif. Kalau sudah begini, kualitas kerja jadi menurun dan tidak akan adil pula bagi perusahaan yang telah menggaji.
Ada banyak indikator lingkungan kerja yang optimal yang dapat kamu perhatikan sebelum memutuskan untuk bekerja di suatu tempat. Adapun secara umum, indikator tersebut dapat dibedakan ke dalam dua kelompok utama: indikator fisik dan indikator nonfisik.
Baca Juga : Work Life Balance, Cara Untuk Menyeimbangkan Hidupmu
Indikator lingkungan kerja fisik melibatkan hal-hal yang berbentuk dan dapat dirasakan secara fisik di dalam sebuah lingkungan kerja.
Setiap karyawan memerlukan personal space dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Setidaknya, perusahaan harus dapat mengalokasikan fasilitas ruang yang cukup untuk setiap karyawannya sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.
Hal ini tidak berarti perlu adanya kubikel atau sekat besar untuk satu karyawan dengan karyawan lainnya. Namun, yang lebih penting adalah bahwa sebuah ruangan tersebut dapat menampung jumlah karyawan di dalamnya secara ideal. Dengan begitu, karyawan tetap dapat bebas bergerak dan memiliki personal space sehingga menjaga kenyamanan dan produktivitasnya.
Penerangan atau pencahayaan berperan besar dalam menimbulkan suasana hati seseorang. Pencahayaan yang buruk akan membuat suasana ruangan menjadi muram. Karena itu, jangan heran bila karyawan di dalamnya jadi ikut bermalas-malasan atau kehilangan gairah bekerja.
Selain itu, penerangan yang buruk akan mengganggu bahkan merusak penglihatan. Beberapa gejala lain pun biasanya akan turut mengikuti seperti sakit kepala.
Terutama sejak adanya wabah COVID-19, sirkulasi udara yang baik menjadi indikator lingkungan kerja lainnya yang jangan sampai terlewat. Minimnya akses keluar-masuk udara menjadi salah satu kesempatan besar bagi patogen seperti virus untuk menyerang siapa pun yang berada di dalam satu ruangan yang sama.
Selain itu, sirkulasi udara juga dapat meminimalkan terjadinya kelembapan. Udara yang lembap akan berdampak pada beberapa kesehatan tubuh lainnya terutama terkait saluran pernapasan.
Sebisa mungkin, sebuah ruangan memiliki akses yang cukup untuk mendapat cahaya matahari guna menjaga keseimbangan sirkulasi. Selain itu, kualitas sirkulasi udara juga dapat dijaga dengan kehadiran ventilasi udara serta pembersihan filter AC.
Baca Juga : Transformational Leadership: Pengertian, Ciri, Serta Manfaatnya
Masih banyak tempat kerja yang tidak melihat desain ruangan sebagai hal penting untuk menunjang produktivitas karyawannya. Padahal, desain ruangan yang mendukung akan meningkatkan kenyamanan karyawan dan berdampak pada produktivitas—bahkan loyalitas dari karyawan itu sendiri.
Desain ruangan yang dimaksud dapat berupa pemilihan warna cat, pengaturan furnitur (workspace), dan sebagainya. Walau terlihat sepele, desain ruangan nyatanya juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi karyawan muda zaman sekarang. Dengan desain ruangan yang ideal, suasana kerja di dalam workspace akan memberikan rasa nyaman bagi rekan-rekan kerja tersebut.
Perusahaan harus dapat memberi jaminan keamanan pada karyawannya saat bekerja di tempat kerjanya agar menciptakan lingkungan kerja kondusif. Contoh paling sederhana adalah dengan selektif dalam memberi akses kepada tamu yang datang untuk masuk ke dalam bangunan perusahaan, menyediakan tempat parkir yang aman, dan sebagainya.
Di samping itu, keamanan ini juga terkait dengan protokol kesehatan. Sampai saat ini, wabah virus corona masih belum juga terlihat adanya tanda-tanda akan membaik dalam waktu dekat. Beberapa ahli bahkan menyatakan bahwa kita dapat hidup berdampingan dengan virus ini selamanya.
Oleh sebab itu, keamanan dalam implementasi protokol kesehatan (prokes) kini menjadi indikator lingkungan kerja yang mutlak. Perusahaan yang disiplin menerapkan prokes berarti menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi karyawannya.
Lingkungan kerja yang bersih akan meningkatkan rasa nyaman. Untuk tetap menjaganya bersih pun, tentu saja, diperlukan kerja sama dari setiap karyawan lainnya selain tim cleaning service.
Kebersihan juga memiliki kaitan terhadap kesehatan. Makin bersih lingkungan kerja, makin kecil kemungkinan menjadi sarang penyakit.
Baca Juga : 7 Manfaat Bekerja Sama dalam Menyelesaikan Pekerjaan Sulit
Indikator lingkungan kerja non fisik lebih menitikberatkan pada hal-hal yang tidak dapat dirasakan langsung oleh panca indra. Walau begitu, indikator ini berperan tak kalah penting dalam mendukung kondusif atau tidaknya lingkungan kerja.
Sayangnya, tidak sedikit seorang karyawan yang dilimpahi tanggung jawab pekerjaan yang terlalu berat. Seakan belum cukup, banyak pula yang mendapat upah tidak sebanding dengan seluruh job description yang diberikan.
Overload yang terjadi terus-menerus akan membuat karyawan burnout dan berdampak pada perusahaan itu sendiri. Kondisi mental yang tidak optimal akan membuat produktivitas maupun kualitas pekerjaan yang dihasilkan tidak maksimal.
Seluruh anggota tim harus sepakat dengan visi dan misi yang ditetapkan atau disepakati bersama. Jika tidak, maka akan terjadi ketimpangan dan menghambat tujuan bersama yang akan dicapai.
Seperti contoh adalah di masa work from home (WFH) seperti saat ini. Banyak karyawan yang jadi memprioritaskan pekerjaannya di jam kerja karena justru sibuk melakukan hal-hal domestik atau personal. Mereka jadi slow response, alur pekerjaan tim jadi terganggu, performa tim turut menurun.
Cara ini dapat dicegah dengan penggunaan beberapa tools seperti project management. Walau begitu, kesadaran dan kedisiplinan masing-masing individu tetap menjadi faktor utama dalam hal ini.
Indikator lingkungan kerja yang baik berikutnya adalah kelancaran komunikasi antara karyawan satu dengan lainnya. Termasuk ketika ada konflik pribadi pun, komunikasi profesional tetap harus dijaga.
Hal ini juga berlaku untuk komunikasi antara karyawan dengan perusahaan secara korporasi. Untuk mengakomodasi kebutuhan komunikasi ini, salah satu caranya adalah dengan melalui forum diskusi.
Kewajiban karyawan adalah memenuhi tanggung jawab yang diberikan kepadanya sesuai kesepakatan. Namun, hal ini tidak berarti memberi apresiasi menjadi sesuatu yang tidak perlu dilakukan.
Bentuk apresiasi yang diberikan pun tidak harus berupa materi. Ucapan terima kasih untuk hal-hal sederhana saja yang diberikan atasan kepada bawahan saja menjadi dukungan moral tersendiri.
Keseimbangan antara kehidupan personal dan profesional bukan sebuah kemustahilan. Kondisi ini sangat mungkin dicapai apabila perusahaan dan karyawan sama-sama memahami dan sepakat untuk mewujudkannya.
Contoh kecilnya adalah dengan tidak ada lagi komunikasi terkait pekerjaan di luar jam kantor kecuali jika sangat mendesak. Selain itu, persetujuan cuti tanpa harus berbelit-belit menjadi wujud dukungan terciptanya work-life balance.
Itulah beberapa indikator lingkungan kerja optimal yang bisa kamu jadikan panduan saat memilih tempat kerja. Untuk mengetahui apakah kantor idamanmu memiliki kualitas tersebut atau tidak, kamu dapat melakukan berbagai cara, mulai dari mencari referensi dari orang-orang yang bekerja di sana hingga mengikuti program internship.
Namun, jangan lupa, kamu juga perlu mempersiapkan diri. Selain berharap tempat kerja idaman dapat memberikan lingkungan yang suportif, kamu juga harus dapat memberi kontribusi maksimal nantinya. Kamu bisa melakukannya dengan semakin mengasah keterampilan melalui berbagai kursus online di GreatNusa, baik , seperti kepemimpinan, maupun hardskill, seperti pemrograman.
Semoga membantu!
By greatnusa • 13 Desember 2021
Kenali apa itu multitasking dan perannya dalam dunia kerja untuk membantu kamu meningkatkan produktivitas. Simak infonya di artikel ini.
Dalam dunia kerja, kamu akan sering mendengar istilah multitasking atau multitugas. Istilah ini umumnya merujuk pada kegiatan atau metode mengerjakan berbagai pekerjaan pada saat yang bersamaan. Tetapi, tentunya istilah tersebut bukan hanya sebatas metode. Kenali apa itu multitasking lebih dalam agar kamu lebih mengerti tentang fenomena ini.
Modernitas dengan dukungan berbagai teknologi membuat setiap orang dituntut untuk dapat lebih cepat menyelesaikan segala sesuatu. Di waktu yang bersamaan pun, berbagai tugas atau pekerjaan dibebankan kepadanya. Dalam kata lain, orang dituntut untuk mampu multitugas .
Hal ini pun kerap menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orang mengamini bulat-bulat konsep ini. Namun, sebagian lainnya justru menganggap bahwa multitasking justru membuat pekerjaan tidak efektif dan bahkan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perbudakan.
Sebenarnya, apa itu multitugas ? Seberapa besar peranan multitasking dalam dunia kerja? Apakah seorang karyawan benar-benar perlu untuk mampu multitasking menjalani kehidupan profesionalnya?
Ramainya penggunaan istilah ini pasti membuatmu cukup paham maksud dari apa itu multitasking. Secara harfiah, multitasking adalah tugas ganda (banyak). Adapun jika disesuaikan dalam konteks lebih komprehensif, multitugas adalah keterampilan untuk mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus dalam satu waktu bersamaan.
Seperti contoh, kamu sedang mengikuti meeting di kantor. Namun, dalam waktu yang bersamaan, kamu juga berkutat dengan ponsel untuk membalas pesan dari klien. Selain itu, contoh lainnya yang tak kalah sederhana adalah saat kamu membuka dua software sekaligus di laptop untuk pekerjaan yang berbeda. Familier dengan situasi ini, bukan?
Walau begitu, praktik multitugas sendiri tidak terbatas di lingkungan kerja. Kamu pasti pernah melakukan dua—atau bahkan lebih—aktivitas sekaligus dalam kehidupan sehari-hari. Misal, kamu menonton televisi atau YouTube sambil makan, berbicara dengan orang lewat telepon sembari memasak atau mengerjakan tugas, bahkan menyetir sambil mengoperasikan ponsel untuk memantau arah via peta digital.
Melalui berbagai sudut pandang, multitugas memiliki kelebihan dan kekurangan terhadap orang yang melakukannya. Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan multitasking yang paling sering menjadi perhatian.
Alasan paling umum mengapa seseorang melakukan multitugas adalah karena dapat menghemat waktu. Saat tugas di kantor sedang menumpuk misalnya, seorang karyawan akan cenderung memilih untuk makan siang di depan laptop untuk sekaligus menyelesaikan pekerjaannya. Dengan begitu, dia tidak perlu menghabiskan waktu lebih lama nantinya di kantor dan dapat pulang tepat waktu.
Di sisi lain, efisiensi karena multitasking juga dapat terjadi dari sisi biaya. Melalui kacamata perusahaan misalnya, merekrut orang yang dapat melakukan beberapa pekerjaan sekaligus tentu akan lebih hemat biaya dibandingkan merekrut dua tenaga kerja. Walau gaji yang diberikan sedikit lebih tinggi dibandingkan rate normal, totalnya tetap tidak akan sebanyak saat mereka harus memiliki dua tenaga kerja.
Salah satu keunggulan multitugas adalah membuat seseorang dapat menjaga momentum dalam menyelesaikan tugas. Seperti contoh, ketika kamu memilih untuk menghadiri rapat dan tetap berkoordinasi melalui HP dengan tim lain yang berada di luar rapat tersebut, maka kamu sedang berusaha untuk tetap segera menyelesaikan dua tugas tersebut.
Begitu selesai dari rapat, kamu pun dapat langsung meneruskan pekerjaan yang sudah dibantu dipersiapkan sebelumnya oleh tim. Dalam kata lain, ritme dan mood bekerja terus terjaga.
Hal ini juga dapat membantu meminimalkan tugas-tugas jadi terbengkalai dan justru memengaruhi performa kerja. Makin cepat satu pekerjaan terselesaikan, makin minim risiko stres di kemudian hari karena sisa-sisa tugas yang menumpuk dan menunggu dituntaskan dalam satu waktu.
Pada dasarnya, otak tidak didesain untuk menangani pekerjaan yang terlalu banyak pada saat bersamaan—terutama untuk jenis aktivitas yang jauh berbeda. Multitasking akan membuat otak menjadi sulit menyimpan informasi mengenai aktivitas tersebut di dalam memori.
Maka dari itu, multitasking dapat membuat seseorang memiliki daya ingat yang lemah. Sebuah studi di University of London bahkan menemukan bahwa mereka yang terbiasa melakukan multitasking mengalami penurunan IQ dibandingkan orang yang tidak tidur cukup di malam hari.
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, multitasking juga dapat menurunkan kreativitas seseorang. Pasalnya, otak bekerja lebih berat sehingga kapasitas otak jadi sudah keburu penuh untuk dapat berpikir kreatif.
Kondisi ini tentu akan berdampak buruk terutama bagi seseorang yang dalam kesehariannya membutuhkan kemampuan berpikir kreatif maupun berimajinasi. Kalau tak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin performansinya di tempat kerja akan merosot.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa multitasking yang dilakukan secara terus-menerus akan membuat seseorang lebih sering stres dan merasa cemas bahkan mengalami migrain. Alasannya adalah karena otak menjadi kurang istirahat.
Kalau kondisi ini dibiarkan terus-menerus, maka ada lebih banyak risiko kesehatan lainnya yang akan terdampak. Stres berkepanjangan akan membuat imun menurun sehingga penyakit lebih mudah untuk menyerang.
Jadi, seberapa besar peranan multitasking dalam dunia kerja?
Perlu diketahui, multitasking adalah keterampilan yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Berita baiknya, seseorang dapat melatih dirinya agar menguasai keterampilan yang satu ini. Meski demikian, hal ini tidak berarti bahwa setiap pekerjaan maupun perusahaan mewajibkan karyawannya untuk mahir multitasking.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, multitasking dapat membantumu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan bahkan meningkatkan produktivitas. Selayaknya bekerja di suatu tempat, makin cepat dan produktif seseorang menyelesaikan pekerjaannya dengan kualitas yang bagus, makin baik pula penilaian kerja terhadapnya.
Namun, apabila kamu tidak terbiasa dengan pekerjaan multitasking, maka kamu harus memiliki kemampuan manajemen waktu dan disiplin yang baik. Hal ini akan membantumu tetap dapat menyelesaikan pekerjaan walaupun melakukannya satu per satu.
Selain itu, kamu juga dapat mengetahui lebih awal apakah sebuah pekerjaan membutuhkan kemampuan multitasking atau tidak. Tiap pekerjaan pasti memiliki tanggung jawab atau job desc tertentu sehingga kamu dapat memperkirakan workload hingga risiko stres yang akan dialami. Jika job desc tersebut tidak cocok denganmu, maka jangan memaksakan diri untuk tetap mengambilnya.
Sebagai contoh, beberapa jenis pekerjaan yang secara jelas membutuhkan kemampuan multitasking adalah perawat, staf administrasi, customer service, dan event planner atau event organizer.
Satu hal penting yang perlu diingat adalah orang-orang yang dapat melakukan multitasking juga dapat mengalami stres dan membutuhkan istirahat. Biar bagaimanapun, otak memang tidak dirancang untuk bekerja dengan intensitas tinggi secara terus-menerus.
Mulailah dengan mengenali diri sendiri. Hindari memaksa diri untuk pekerjaan yang sedari awal tidak cocok dengan karakter atau kondisimu. Tidak ada salahnya untuk mencoba, tetapi kamu harus bisa beradaptasi dan memahami batasan diri.
Komunikasikan pula dengan atasan saat kamu mulai merasa bahwa beban pekerjaan terlalu berat dan sulit untuk mengikuti ritmenya. Jika kamu merasa sulit untuk berkomunikasi secara langsung, tak ada salahnya untuk berkomunikasi melalui e-mail atau media komunikasi serupa lainnya. Tentunya, kamu perlu menggunakan bahasa yang tetap profesional.
GreatNusa menyediakan kelas online untuk membantumu berkomunikasi secara profesional melalui program Business Communication. Kursus ini menawarkan keterampilan dasar yang menjadi modal penting dalam dunia kerja. Selain itu, kamu juga bisa meningkatkan skill lain, baik softskill maupun hardskill, di GreatNusa melalui berbagai program yang tersedia.
By greatnusa • 29 Maret 2023
Lingkungan kerja toxic tidak hanya akan membuat sulit bekerja tetapi juga bisa membayahakan kesehatan. Simak ciri-cirinya di artikel ini.
Beberapa waktu terakhir, istilah toxic menjadi begitu populer digunakan. Kata ini dipakai untuk merepresentasikan keadaan atau lingkungan yang tidak sehat dan cenderung berdampak pada kesehatan mental seseorang. Kondisi toxic pun dapat terjadi di mana saja—tak terkecuali di tempat kerja. Karyawan yang bekerja di lingkungan kerja toxic sangat berpotensi mengalami penurunan produktivitas dan gairah bekerja, burnout, hingga gangguan kesehatan baik psikis maupun fisik.
Lalu, apa saja tanda-tanda lingkungan kerja toxic? Berikut adalah penjelasannya.
Ada banyak indikator lingkungan kerja yang dapat kamu gunakan untuk mengukur apakah suatu lingkungan kerja itu sehat atau tidak. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Ini adalah salah satu indikator lingkungan kerja tidak sehat yang paling mudah diamati. Karyawan yang mempunyai beban kerja tidak realistis umumnya akan sering mengalami overload tugas. Tak jarang, untuk menyelesaikannya, dia harus lembur hingga melewatkan waktu-waktu yang penting untuknya seperti jam makan, istirahat, dan sebagainya.
Beban kerja yang tidak realistis juga akan memforsir tubuh serta pikiran karyawan. Kalau sudah begitu, tak perlu heran jika si karyawan sering mengalami berbagai gangguan kesehatan dan menjadi kerap lupa (ingatan melemah).
Bagaimanapun, semua ada takarannya. Kalau kamu mengalami situasi ini, pertimbangkan kembali apakah ‘pengorbanan’-mu setara dengan risiko maupun hasil yang diterima—terutama saat upah yang diterima ternyata tidak sebanding. Bicarakan dengan atasan secara terus terang kondisi yang kamu rasakan. Apabila tak ada respons positif, maka kamu sebaiknya mulai mencari opsi pekerjaan lain yang lebih manusiawi.
Birokrasi berbelit menjadi salah satu penyebab mengapa sebuah perusahaan sulit berkembang—termasuk pula di dalamnya adalah karyawan yang sulit mengembangkan potensi maksimal dirinya. Gaya bekerja semacam ini masih sangat banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan lama atau besar.
Birokrasi yang berbelit-belit kerap membuat karyawannya pun sulit melakukan inovasi. Situasi ini sangat berpotensi menyebabkan karyawan merasa stres, tidak nyaman, dan sulit mencapai aktualisasi diri yang diharapkan melalui pekerjaannya.
Baca Juga: Apa itu Quarter Life Crisis dan Cara Menghadapinya
Apresiasi membuat seseorang merasa lebih dihargai dan didukung. Dalam lingkungan kerja, apresiasi akan mendorong seseorang untuk memenuhi tanggung jawab dengan lebih optimal. Ujung-ujungnya, tentu saja, pekerjaan yang diselesaikan dengan baik akan membantu perusahaan mencapai tujuannya.
Apresiasi yang dimaksud pun tidak selalu berkaitan dengan materi. Seorang atasan yang mengucapkan terima kasih kepada timnya di penghujung hari atas kinerja anggotanya misalnya, adalah sebuah bentuk apresiasi sederhana yang memberi pengaruh cukup besar.
Sebaliknya, tempat kerja yang mengabaikan pentingnya apresiasi kepada karyawannya adalah lingkungan kerja toxic. Terlebih lagi jika orang-orang di dalamnya suka mencela dan mengabaikan keberhasilan atau kebaikan seorang karyawan. Kondisi ini akan membuat karyawan menjadi tidak nyaman dan bahkan terganggu psikisnya.
Tiap perusahaan mempunyai nilai-nilai tersendiri yang menjadi acuan mereka dalam bertindak dan mencapai tujuan bersama. Sayangnya, dalam banyak kasus, keberadaan nilai-nilai tersebut hanyalah sebagai formalitas dan pelengkap visi misi perusahaan saja. Bahkan tak jarang, karyawan senior hingga pucuk pimpinan pun mengabaikan nilai-nilai perusahaan dalam bertindak.
Ada banyak kejadian yang dapat dijadikan contoh hal ini seperti sebuah perusahaan yang menerapkan nilai ‘jujur’. Nilai tersebut diciptakan untuk membiasakan setiap karyawan—bahkan stakeholders lain yang terlibat—untuk senantiasa bersikap jujur. Namun, nyatanya masih banyak saja karyawan yang memanipulasi data seperti presensi, keuangan, bahkan memalsukan tanda tangan atasan untuk berbagai kepentingan.
Baca Juga: Apa Itu Multitasking? Seberapa Besar Peranannya dalam Dunia Kerja?
Korporasi besar yang terlihat begitu stabil dan raksasa sekalipun tidak selalu bebas dari situasi ini. Aturan yang berubah-ubah pun kerap menjadi pemantik keributan di kantor.
Misal, kamu telah berhasil mencapai target penjualan dan berhak mendapat insentif sebagaimana yang dijanjikan—bahkan terlampir dalam dokumen resmi. Insentif tersebut seharusnya dibayarkan pada H+1 bulan setelah periode penjualan. Namun, yang terjadi justru jauh dari hal tersebut—insentif baru cair di H+3 bulan tanpa ada kejelasan dari pihak yang bersangkutan.
Contoh lain aturan yang tidak konsisten adalah mengenai promosi. Sesuai kesepakatan, kamu berhak mendapat promosi setelah bekerja selama setidaknya satu tahun dengan standar prestasi tertentu (misal memenuhi target kerja, aktif di berbagai kegiatan perusahaan, dan sebagainya). Namun, setelah memenuhi seluruh kriteria tersebut, kamu ternyata tetap ditahan di posisi saat ini karena alasan karena alasan yang berbelit-belit.
Ciri lingkungan kerja toxic lainnya adalah rekan kerja yang gemar membicarakan situasi terutama keburukan orang lain—baik sesama rekan kerja, atasan, atau bahkan orang tak dikenal di media sosial sekalipun. Lebih jauh lagi, mereka juga cenderung merendahkan bahkan membuat rumor tanpa merasa bersalah.
Selain itu, orang-orang seperti ini juga kerap menyerang personal rekan kerja lainnya. Alih-alih berfokus pada urusan profesional, mereka kerap ikut campur dan bahkan mengungkit-ungkit kehidupan personal orang lain di tempat kerja.
Baca Juga: 11 Indikator Lingkungan Kerja yang Optimal
Ada banyak jenis pelecehan yang terjadi, termasuk di tempat kerja. Contoh, seorang karyawan tanpa sadar memandang sebelah mata atau membawa-bawa masalah gender atau fisik kepada rekan kerjanya, seperti, “Wah, pantas saja kamu bisa dapat cepat dapat klien. Cantik, sih.”
Hal tersebut bukanlah pujian. Tak sedikit orang yang menerima ucapan tersebut justru merasa keberatan. Sebab seolah-olah, hanya kondisi fisik mereka yang dinilai alih-alih perjuangan keras maupun kepiawaian dan profesionalisme mereka dalam mencapai target.
Selain itu, masih ada banyak bentuk pelecehan lainnya. Atasan atau karyawan senior yang menegur keras atau bahkan marah kepada seorang karyawan di depan rekan kerja lainnya pun merupakan contoh pelecehan.
Seorang karyawan juga mempunyai kehidupan di luar pekerjaan dan kantor. Mereka memiliki keluarga, hobi, atau bahkan tanggung jawab lain yang memerlukan atensi mereka. Oleh sebab itu, akhir pekan maupun waktu di luar jam operasional kantor menjadi waktu yang sebaiknya tidak lagi dibebani oleh pekerjaan.
Sayangnya, lingkungan kerja toxic kerap melanggar batasan ini. Mengirim pesan bahkan meneror lewat telepon di luar jam kantor—terutama untuk sesuatu yang tidak mendesak—dipaksakan menjadi sebuah kenormalan. Kalau seperti ini, sangat sulit, bukan, untuk mencapai work-life balance?
Lingkungan kerja toxic ada di mana-mana. Oleh sebab itu, kamu harus cermat mengenali mana lingkungan yang sehat untuk menjadi tempatmu mencari nafkah, mewujudkan aktualisasi diri, beribadah, maupun alasan lain yang mendorongmu untuk bekerja.
Pun kamu tak perlu takut untuk memulai kembali. Jika lingkungan kerja yang saat ini toxic dan kamu ingin mencari kesempatan lebih baik di luar, mulailah mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih bersahabat. Kamu dapat mengikuti berbagai kursus online untuk mengembangkan keterampilan yang dimiliki sehingga semakin meningkatkan ‘nilai jual’-mu.
GreatNusa menyediakan berbagai kursus online untuk menunjang kariermu. Mulai dari softskill seperti kemampuan berbahasa asing hingga hardskill seperti bahasa pemrograman, statistik, manajemen proyek, dan sebagainya, kamu bisa memilih kelas sesuai passion atau kebutuhan profesionalisme.
By greatnusa • 29 Maret 2023
Memahami strategi penyelesaian konflik, seperti bertindak tegas, dapat membantu mengatasi permasalahan kantor. Simak info lengkapnya di sini.
Strategi penyelesaian konflik harus dikuasai dengan baik oleh siapa pun, terlepas dari jabatannya, dalam dunia kerja. Karena, penyelesaian konflik akan membutuhkan partisipasi dari banyak pihak.
Kita semua pasti menginginkan pekerjaan yang bebas dari konflik. Namun, tentu kita juga tahu bahwa hal tersebut mustahil terjadi. Konflik adalah suatu jenis komunikasi yang membantu kerja sama dalam menyelesaikan masalah dan membuat lingkungan menjadi lebih baik.
Walau begitu, banyak orang yang takut dengan konflik. Kita ingin semua orang puas dan merasakan hari-hari yang selalu tenang tenteram. Namun, apa memang benar bahwa konflik tidak sejalan dengan hal tersebut?
Faktanya, konflik merupakan bagian yang sehat dan penting dalam hubungan apa pun, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan. Konflik menandakan bahwa orang-orang terus aktif bernegosiasi tentang kebutuhan dan ekspektasi mereka. Inilah yang membantu menjaga interaksi di tempat kerja tetap harmonis.
Nah, supaya lebih optimal, kamu harus tahu strategi penyelesaian konflik dalam dunia profesional. Apa saja? Mari simak poin-poin dan pembahasannya!
Baik konflik yang terjadi di email, pertemuan, telepon, atau tatap muka langsung, pastikan untuk mengalihkan pengelolaan masalahnya ke ranah pribadi. Jika konflik terjadi di hadapan publik, nyatakan bahwa problem tersebut akan dituntaskan secara personal atau offline. Lalu, imbau semua orang untuk "move on" dari konflik itu.
Baca Juga: Pengertian Manajemen Konflik dan Fungsinya dalam Bisnis
Penanganan masalah secara pribadi akan menciptakan kesempatan bagi semua orang yang terlibat untuk menyampaikan niat dan perasaan mereka dalam lingkungan yang lebih tertutup. Strategi ini juga mencegah orang lain yang tidak berkaitan ikut campur dalam proses penyelesaian konflik.
Active listening merupakan teknik tepat yang menjadikanmu sebagai pendengar yang lebih baik dan mampu memaksimalkan pekerjaan sehari-hari, terutama dalam penyelesaian konflik.
Caranya? Berikanlah masukan selama kamu mendengarkan, gunakan sedikit dukungan agar orang yang bercerita merasa didengar, lalu bahas ulang permasalahan sekaligus memberi jeda sesekali di antara pernyataan yang kamu sampaikan. Langkah ini sangat baik supaya orang-orang tahu bahwa kamu sedang menyimak dengan saksama.
Tak peduli seberapa banyak usaha yang dikerahkan untuk menuntaskan konflik, ada kalanya timbul permasalahan yang memang tidak ada solusinya. Ketika itu terjadi, kita harus tahu waktu untuk "menyerah". Bisa jadi, seseorang memang sedang mengalami hari yang buruk, atau kamu dan klien terus-menerus bertentangan dalam membahas sebuah topik.
Kadang-kadang, beberapa konflik memiliki penyebab yang jauh lebih kompleks ketimbang saat pertama kali muncul. Sebaiknya, agar semua orang yang terlibat lega, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Walau kamu berpikir bahwa persoalannya sudah jelas, tetap berikan kesempatan pada semua orang untuk mengeluarkan pendapat.
Selain itu, cek dahulu latar belakang kejadian sedetail mungkin. Jangan membuat asumsi sendiri tentang orang-orang yang berkonflik. Ibaratnya, kumpulkan semua fakta secara teliti bak seorang detektif, lalu pertimbangkan segala faktor dengan kebijaksanaan seorang hakim.
Dalam strategi penyelesaian konflik, terdapat berbagai macam pendekatan, termasuk metode yang bersifat kritis. Nah, ada kalanya suatu masalah hanya bisa ditangani dengan pengkritikan. Perlu diingat, pihak yang menjadi sasaran kritik adalah orang-orang yang bekerja denganmu pada esok hari, minggu depan, bahkan seterusnya. Jadi, bagaimana cara mengkritik tanpa menyakiti, tetapi tetap efektif?
Gunakanlah kritik yang membangun. Jenis kritik ini adalah pendekatan yang dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan dan menunjuk pihak bersalah, tetapi masih mendukung perbuatan baik yang pernah dilakukan orang tersebut. Dengan begitu, tim punya "alat" untuk mencegah kekeliruan yang sama terulang kembali dan tidak akan ada kebencian di antara mereka.
Cobalah untuk menyelesaikan konflik dengan tidak langsung memperbaiki kesalahan. Apa maksudnya? Jika tim terus-menerus mengandalkan pemimpin untuk menyelesaikan masalah, mereka tidak akan belajar dan sulit mengambil hikmah dari sebuah konflik.
Sebagai seorang pemimpin, kamu harus mengarahkan kelompok, bukan membela salah satu argumen dari mereka. Tambahan lagi, ajak tim untuk menuntaskan konflik bersama-sama. Memang, cara ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membimbing mereka hingga mencapai kesimpulan. Namun, tim akan belajar bertindak menyelesaikan konflik dengan sendirinya, tanpa mereka sadari!
Kamu memang harus menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikan konflik. Namun, ingat! Sekali berkecimpung dalam prosesnya, bertindaklah secara tegas. Jangan sampai terlalu lama membuat keputusan hingga membiarkan semua orang bimbang. Hal ini bisa menciptakan kesan buruk yang tertanam pada kualitas kepemimpinanmu.
Selain itu, jangan biarkan terlalu banyak masukan mengendalikan keputusan yang akan dibuat. Saran dari sesama rekan terkadang memang membantu. Namun, bergantung pada opini orang lain dan tidak punya pemikiran sendiri akan membuat otoritasmu sebagai pemimpin dipertanyakan. Jadi, buatlah keputusan secara tegas, walaupun sebagian orang yang terlibat tidak menyukainya.
Baca Juga: Mengenal Strategi Kepemimpinan dalam Dunia Kerja
Sebagai pemimpin, kamu berada di posisi otoritas. Jadi, jangan sampai menyalahgunakannya. Konflik yang diselesaikan dengan paksaan memang tampak lebih instan, tetapi hal ini menandakan bahwa seorang pemimpin tidak memiliki pemikiran jangka panjang.
Belum lagi, tim tidak akan belajar apa pun dari penyelesaian konflik yang memaksa selain rasa takut padamu. Artinya, mereka sulit mengaku ketika ada sesuatu yang salah terjadi. Hal ini membuat pemimpin tidak akan tahu apa-apa sampai masalah bisa diatasi. Jadi, luangkan waktu untuk menyelesaikan persoalan sampai benar-benar tuntas—menutup segala kemungkinan yang bisa membuat konflik muncul kembali.
Setiap menghadapi perdebatan, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu. Cara ini terbukti meredakan stres dan membuat seseorang lebih fokus pada permasalahan yang sedang ditangani. Jadi, tariklah napas dalam setidaknya satu kali saat kamu berada di tengah-tengah konflik yang memanas. Ketika mendorong diri untuk berhenti dan bernapas, kita bisa menghindari reaksi emosional yang malah membuat keadaan semakin memburuk.
Kemudian, pikirkan reaksi seperti apa yang harus kamu berikan terhadap situasi tersebut. Tentukan pula langkah yang akan diambil selanjutnya, sesuai dengan jenis konflik. Konflik besar biasanya membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan, sedangkan konflik kecil seharusnya bisa ditangani sesegera mungkin.
Kurangi atau hilangkan potensi konflik dengan mengatur standar perilaku di tempat kerja. Apabila kamu memberikan waktu pada tim untuk mencerna hal-hal yang pantas maupun tidak pantas dalam lingkungan kerja, mereka akan berusaha memahaminya. Semakin banyak pedoman yang diatur, semakin baik pula kinerja tim dalam mematuhinya. Kamu bisa membuat deskripsi pekerjaan yang spesifik, kerangka kerja diskusi, ataupun cara menjalankan praktik bisnis yang tepat.
Itulah berbagai strategi penyelesaian konflik dalam dunia kerja yang patut kamu ketahui. Konflik bukanlah sesuatu yang menakutkan. Penanganan konflik merupakan cara memperkuat hubungan dan menyatakan harapan dalam relasi dengan sesama. Apabila mampu memahami poin-poin strategi di atas dan menerapkannya dengan efektif, kamu bisa mengetahui waktu yang tepat untuk menghindari ataupun menyelesaikan konflik.
Semoga artikel kali bisa membantumu memperbaiki kualitas hubungan dengan rekan kerja dan pelanggan, ya!
Untuk dapat menguasai strategi penyelesaian konflik, kamu bisa mulai membekali dirimu dengan pengetahuan serta kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja. GreatNusa memiliki berbagai kursus online yang dapat membekali dirimu dengan tepat. Kamu bisa mengikuti kursus Komunikasi Bisnis yang dapat membantumu berkomunikasi dengan baik dengan rekan kerja.
By greatnusa • 13 Desember 2021
Strategic leadership adalah bentuk kepemimpinan yang menggabungkan seni dan pengetahuan. Simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut ini.
Strategic leadership adalah sebuah bentuk atau gaya kepemimpinan yang muncul untuk menjawab tantangan dalam dunia bisnis yang semakin cepat berubah. Apa itu strategi leadership?
Banyak pemimpin yang memiliki keahlian operasional matang untuk mempertahankan status quo organisasi. Namun, tidak banyak dari mereka yang punya aspek krusial: pengalaman, pengetahuan, serta kepercayaan diri dalam menghadapi masalah kompleks dan menantang.
Studi PwC (2015) pada 6.000 eksekutif senior dilakukan dengan metodologi riset yang dikembangkan oleh William Torbert dari Boston University dan David Rooke dari Harthill Consulting. Responden harus menjawab sekumpulan pertanyaan terbuka untuk mengungkap preferensi kepemimpinan mereka. Hasilnya? Hanya 8 persen yang dapat dikategorikan sebagai pemimpin strategis.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa masih banyak pemimpin yang tidak memahami dan menjalankan strategic leadership. Apa pengertian dan ciri-ciri dari istilah tersebut? Bagaimana cara menerapkannya? Yuk, cari tahu lewat uraian berikut!
Sederhananya, strategic leadership (kepemimpinan strategis) merupakan gabungan keahlian, perspektif, tingkah laku, dan kejelian dari seorang pemimpin. Istilah ini juga diartikan sebagai keseimbangan antara seni dan ilmu pengetahuan. Pemimpin strategis mampu mewujudkan tujuan dan membuahkan hasil yang baik untuk organisasi.
Selain itu, para pemimpin strategis mampu mengombinasikan rencana dengan manajemen. Organisasi menghormati peran dan pandangan mereka sembari mewujudkan visi tersebut menjadi kenyataan.
Pola pikir manajemen dan produktivitas memainkan peran besar, yakni cara pikir pemimpin sama dengan cara kerja mereka. Kemudian, pola pikir strategis mencerminkan kecerdasan strategis: kemampuan untuk melihat gambaran besar yang berhubungan dengan masa kini maupun masa depan.
Ada berbagai karakteristik yang melekat pada diri pemimpin strategis:
Dalam banyak kasus, kepemimpinan strategis biasanya diawali dengan kejujuran. Terus terang terkait kesuksesan, kegagalan, dan alasan memilih strategi dan tujuan tertentu kepada orang lain akan membuat tim menghormatimu. Organisasi yang mengikuti moto "kejujuran adalah kebijakan terbaik" akan menghasilkan kepercayaan di antara mereka.
Kejujuran memang peraturan terbaik, tetapi kepemimpinan strategis terkadang membutuhkan kebijaksanaan. Maka dari itu, kamu perlu mempelajari keahlian diplomasi. Kemampuan ini membantu para pemimpin untuk mengelola konflik menggunakan sensitivitas dan diplomasi.
Sikap empati bukan hanya menjadikanmu sebagai "tempat curhat" dalam organisasi. Empati menunjukkan bahwa seorang pemimpin memahami permasalahan tim. Caranya? Kamu harus bisa menempatkan diri selayaknya anggota tim dan melihat berbagai hal dari sudut pandang mereka.
Salah satu kualitas kepemimpinan strategis yang paling dihormati ialah kerendahhatian. Pemimpin yang rendah hati mengakui kesalahan, meminta maaf ketika dibutuhkan, serta selalu berbagi penghargaan. Perilaku ini membuatmu lebih manusiawi dan lebih dekat dengan tim. Selain itu, rendah hati tidak akan membuat pemimpin tampak sombong.
Secara alami, punya pendekatan kolaboratif dalam kepemimpinan menciptakan transparansi dalam sebuah organisasi. Jika kamu selalu terhubung dengan tim dan benar-benar tertarik bekerja sama dengan mereka, tim akan memahami pola pikir pemimpin mereka, begitu pula sebaliknya.
Tak diragukan lagi, seorang komunikator andal merupakan sifat paling penting dari pemimpin strategis. Kamu boleh jadi punya visi yang terbayang jelas di dalam benak. Namun, kalau tidak bisa menjelaskan visi tersebut kepada tim atau rekan, sulit untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Kemampuan untuk memberi gambaran tentang keinginan pemimpin kepada tim mampu menyatukanmu dengan mereka.
Baca Juga: Mengenal Apa Itu Interpersonal Skill dalam Organisasi
Jangan hanya terpaku pada diri sendiri! Pemimpin strategis juga perlu mendengarkan hal-hal yang ingin disampaikan oleh tim. "Bicara dan mendengar" bagaikan dua sisi dari sebuah koin—pemimpin terbaik harus bisa melakukan keduanya!
Antusiasme dari misi atau proyek yang kamu kerjakan menunjukkan dedikasi dan bisa membuat orang lain ikut bersemangat. Namun, penambahan komitmen diperlukan untuk meningkatkan mutu kepemimpinan strategis—karena semangat tidak selalu membuat pekerjaan selesai.
Tahukah kamu bahwa sikap positif itu menular? Tim yang dikelilingi dengan orang-orang yang positif dan gembira cenderung bekerja lebih keras dan lebih menikmati kegiatan mereka. Meskipun waktu bersantai dan jam produktif harus tetap diseimbangkan usahakan untuk selalu menciptakan lingkungan positif, ya!
Seorang pemimpin strategis tidak hanya butuh praktik dan realisme, tetapi juga memerlukan pandangan terhadap inovasi dan visi untuk mengeksekusinya. Dengan kata lain, "jangan terlalu terbiasa di zona nyaman". Inovasi akan memberikanmu keuntungan dari segi kompetisi.
Penerapan kepemimpinan strategis mencakup beberapa prinsip, antara lain,
Dalam struktur manajemen tradisional, arus informasi sangat dibatasi. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengetahui informasi tersebut. Masalahnya, prinsip ini justru membuat tim harus berprasangka, atau malah tidak percaya diri untuk menyatakan ide yang berbeda dengan pemimpin mereka.
Maka dari itu, kamu perlu bersikap jujur dan terbuka terkait informasi yang ada di dalam organisasi. Sikap transparan akan banyak membantu, mulai dari meningkatkan produktivitas, memahami sesama dengan lebih baik, hingga menghindari manipulasi data.
Pemimpin terbaik harus bisa mendorong orang-orang dari tingkat mana pun untuk membuat keputusan. Pembagian tanggung jawab berpotensi memberikan pandangan pada pemimpin strategis tentang hal-hal yang terjadi ketika mengambil risiko. Cara ini juga meningkatkan kecerdasan kolektif, ketangguhan, dan kemampuan beradaptasi sebuah organisasi dari waktu ke waktu.
Salah satu keahlian kunci yang perlu dimiliki oleh pemimpin strategis adalah mengembangkan dan menyampaikan ide. Sebaiknya, kamu harus bisa menghubungkan berbagai ide yang disampaikan oleh tim untuk menciptakan value. Buatlah beragam peluang supaya tim dapat membawa pemikiran inovatif mereka ke hadapan orang-orang di organisasi dengan percaya diri.
Semua pekerjaan memiliki risiko kegagalan. Maka dari itu, pemimpin strategis harus berbesar hati dalam menerima kegagalan, baik dalam praktik maupun proses dalam organisasi. Bukan hanya usaha sukses yang bisa kamu pelajari, jenis-jenis kegagalan yang menjadi keberhasilan juga harus diketahui. Lalu, pemimpin strategis juga perlu belajar mengelola situasi penuh tekanan yang berhubungan dengan ketidakpastian, serta memulihkan kegagalan agar tim bisa bangkit kembali.
Pemimpin yang setengah-setengah dalam pekerjaan biasanya akan menghindari tugas yang menantang atau diskusi yang menguras energi mental dan emosional. Jangan ditiru! Sebagai pemimpin strategis, kamu harus mengerjakan semua tugas semaksimal mungkin. Tak hanya itu, selama bekerja, libatkan fokus yang tinggi, analisis kritis, pemikiran mendalam, penilaian, serta kemampuan untuk memahami seluk-beluk secara mendetail.
Bagaimana orang-orang berkualitas yang harus kamu cari? Pertama, pilihlah seseorang dengan keahlian yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Lalu, pekerjakan orang-orang dengan integritas dan etos kerja yang tinggi. Jangan lupa juga untuk memilih anggota tim yang mampu bekerja sama secara optimal dengan anggota lainnya agar kerja sama tim dapat terbentuk dan berjalan dengan baik.
Bagaimana? Sudahkah kamu memahami pengertian, ciri-ciri, dan cara penerapan strategic leadership? Kalau begitu, persiapkan diri untuk menjadi pemimpin strategis yang mampu membawa tim menuju kesuksesan, mulai saat ini! Jangan lupa sesuaikan kepemimpinan dengan keahlian individual maupun kultur dan kerangka kerja di organisasimu. Semoga berhasil!
Jika kamu ingin menguasai gaya kepemimpinan strategis, maka kamu harus membekali dirimu dengan berbagai pengetahuan, terutama tentang kepemimpinan dan manajemen. GreatNusa adalah tempat belajar online yang dapat membantumu mewujudkan impian tersebut. Kamu dapat megikuti kursus kepemimpinan serta bisnis dan manajemen untuk membekali dirimu dengan seluruh pengetahuan yang kamu butuhkan untuk menjadi pemimpin strategis yang hebat.
By greatnusa • 13 Desember 2021
Ketahui cara public speaking bagi pemula untuk membantu kamu belajar public speaking dengan lancar. SImak informasi lengkapnya di sini.
Pernahkah kamu merasa gugup ketika berbicara di depan umum? Sebenarnya hal ini wajar dan dialami oleh banyak orang. Berbicara di depan umum bisa sedikit menakutkan bagi yang belum terbiasa. Namun, kamu bisa menjadi pembicara yang hebat asalkan mau mempelajari cara public speaking dasar untuk seorang pemula. Imbangi hal tersebut dengan latihan rutin dan menambah pengetahuan mengenai banyak hal sehingga kamu menguasai banyak topik yang lebih berbobot.
Kamu pasti tahu bahwa tak mudah menjadi pembicara yang baik. Namun, bukan berarti tak dapat dipelajari. Kamu bisa memulainya dengan menerapkan beberapa cara sederhana. Berikut sejumlah cara mudah untuk melakukan public speaking bagi pemula.
Berbicara di depan umum dimulai dari keyakinan dan keberanian. Kedua hal ini merupakan kunci utama untuk meningkatkan rasa percaya diri sekaligus mengasah kemampuan public speaking. Kamu harus yakin bahwa kamu mampu mengeluarkan ide atau pendapat dengan kata yang mudah dimengerti orang lain. Meskipun merasa gugup, cobalah untuk bersikap lebih berani. Lambat laun, kamu akan terbiasa menghadapi banyak orang.
Rutinlah berlatih minimal selama 30 menit setiap hari. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan membantu kamu menguasai topik bahasan. Saat kamu berlatih, cobalah untuk menyampaikan presentasi sebagaimana yang akan kamu lakukan di hari H. Pastikan mengecek berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan presentasi. Jika waktu terlalu lama, maka kurangi isi pembicaraan tanpa menghilangkan bagian penting.
Pastikan kamu telah menguasai materi dengan baik hingga paham dan hafal di luar kepala. Penguasaan topik akan mendorong kamu berbicara dengan lebih percaya diri kepada audiens. Kamu juga akan menunjukkan bahwa kamu mampu menyampaikan dan menjawab setiap pertanyaan yang mungkin akan diajukan oleh audiens.
Bukan hal mudah untuk melakukan kontak mata dengan orang lain, terutama yang belum kamu kenal. Namun, hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan kedekatan antara kamu dengan audiens. Cara ini juga sekaligus meyakinkan audiens mengenai materi pembicaraan. Bisa dibilang, kontak mata merupakan salah satu kunci keberhasilan public speaking.
Jika kamu merasa gugup memandang mata audiens secara langsung, maka alihkan tatapan kamu ke bagian dahi atau batang hidung. Usahakan arah pandangan kamu tidak hanya terfokus pada satu titik, melainkan menyebar ke sisi lain. Menahan pandangan dalam waktu lebih lama juga efektif menghilangkan kegugupan dan membuat kamu lebih fokus menyampaikan materi.
Rasa gugup terkadang membuat kamu kesulitan untuk menyampaikan informasi dengan lancar. Lantaran merasa cemas, kamu bisa kehilangan kata-kata atau berbicara terlalu cepat sehingga melewatkan poin penting yang seharusnya disampaikan. Alhasil, informasi tersebut sulit dipahami oleh audiens.
Untuk mencegah hal tersebut, pastikan kamu mempelajari teknik relaksasi lebih dulu. Bisa dengan menarik napas selama beberapa saat atau memikirkan hal menyenangkan yang bisa membuat ketegangan hilang. Cobalah untuk berbicara secara perlahan dengan artikulasi jelas agar audiens mudah memahami informasi tersebut. Ketika gugup kembali menyerang, tarik napas dan lanjutkan berbicara.
Tak berbeda dengan kontak mata, intonasi suara juga menjadi salah satu faktor kesuksesan public speaking. Meskipun tampak sepele, intonasi suara dapat mendorong rasa ketertarikan dan keyakinan yang dimiliki audiens. Melalui intonasi, kamu bisa menunjukkan emosi dan perasaan kepada audiens.
Semangat, rasa bahagia, dan bangga yang berasal dari intonasi suara kamu akan menyalurkan perasaan yang sama terhadap audiens. Hindari berbicara dengan intonasi suara datar karena hanya akan membuat audiens merasa bosan dan tidak memperhatikan materi yang kamu sampaikan. Atur intonasi suara supaya audiens tetap fokus hingga akhir presentasi.
Cara public speaking selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah menghindari suara jeda. Sebenarnya, suara jeda, seperti “hm”, “aa”, “err”, “mm”, “uuh”, atau “engg” merupakan hal yang normal dilakukan ketika kamu merasa bingung melanjutkan pembicaraan. Namun, alangkah lebih baik apabila suara jeda diganti dengan hening. Berbicara dengan lebih perlahan juga dapat membuat kamu lebih rileks saat menyampaikan informasi sekaligus efektif menghabiskan jatah waktu yang diberikan.
Presentasi yang baik dan berkualitas tidak dilihat dari lamanya durasi penyampaian, melainkan isi yang disampaikan. Ketika kamu menyusun materi, fokuslah ke poin penting. Selain menghemat waktu, hal ini tidak akan membuat audiens merasa bosan dengan pembahasan yang terlalu lama dan berbelit. Audiens lebih menyukai pembahasan yang ringkas dan padat. Untuk mendapatkan atensi audiens, pastikan kamu meringkas materi dan memasukkan seluruh poin penting. Dijamin, audiens akan terfokus pada pembahasan yang kamu sampaikan.
Bahasa tubuh menggambarkan kesiapan dan kepercayaan diri kamu. Postur tubuh yang kaku dengan bahu tertunduk bisa diartikan sebagai tanda gugup. Sementara postur tubuh tegak dengan kepala terangkat menggambarkan bahwa kamu siap dan percaya diri. Melakukannya hal ini juga akan membuat tubuh lebih rileks sehingga kamu makin nyaman berbicara di depan audiens.
Agar perhatian audiens tetap fokus terhadap apa yang kamu sampaikan, kamu bisa menambahkan sedikit gerakan tangan. Jangan ragu menggunakan ekspresi wajah dengan intonasi suara yang tepat. Pasalnya, kombinasi ini memudahkan audiens mendapatkan informasi dari dua sumber, yakni suara dan bahasa tubuh. Alhasil, pemahaman terhadap materi yang disampaikan lebih cepat.
Ketika kamu berbicara dan melakukan kesalahan, tak perlu merasa panik. Ingatlah bahwa setiap manusia melakukan kesalahan, sekecil apa pun itu. Kunci untuk mengurangi kepanikan dan menghindari situasi canggung adalah dengan menutupi kesalahan itu. Jangan terpaku pada kesalahan apalagi menunjukkan rasa bersalah kamu melalui ekspresi wajah. Selain dapat membuyarkan fokus, kepanikan hanya akan membuat semua audiens menyadari kesalahan yang kamu lakukan. Cobalah untuk tarik napas dan lanjutkan penyampaian materi.
Baca Juga: 7 Tips Cara Melatih Public Speaking Untuk Mahir Berbicara
Dengan menerapkan sejumlah cara di atas, kamu bisa mempelajari public speaking secara otodidak. Asalkan kamu rutin berlatih, keterampilan berbicara di depan umum akan meningkat. Kamu tidak akan merasa gugup atau canggung lagi ketika berhadapan dengan banyak orang. Kamu juga akan lebih berani untuk menyuarakan pendapat. Untuk memperbanyak topik bahasan, rajinlah membaca banyak buku atau mendengar audio. Makin luas pengetahuan yang kamu miliki, kamu akan makin mudah menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh audiens.
Jika kamu tertarik untuk mempelajari public speaking lebih mendalam, maka kamu bisa mengikuti pelatihan yang disediakan oleh GreatNusa. Melalui portal pembelajaran daring ini, kamu bisa mengakses materi tanpa batasan waktu dan tempat. GreatNusa menawarkan berbagai jenis course dan webinar untuk mendorong kemampuan public speaking. Berbekal cara public speaking yang dikemas secara ringkas dan berkualitas, kamu bisa tumbuh sebagai seorang pembicara yang baik. Tunggu apa lagi? Yuk, gabung GreatNusa sekarang juga!